Article: 20260723/IN: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Jaen (bicara | kontrib)
←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=inspirational | namespace= Article | pagename= 20260723/IN | title= Dilemahkan untuk di bentuk menjadi Pemenang | date= 2026-07-23 | event= Menara Doa Unity | displayevent= Menara Doa Unity | actualdate= 2026-07-16 | notes= | name= Lie Handry Senjaya | completename= Pdp Lie Handry Senjaya | illustration16x9= {{LatestImage/Inspirational | name=Lie Handry Senjaya | date=2026-03-05 }} | illustration1x1= Logo Inspirational...'
 
Leo (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
Baris 18: Baris 18:
}}
}}
{{blockquote/Ayat
{{blockquote/Ayat
| '''''Lalu kata orang itu namamu tidak akan di sebut lagi Yakub tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang.'''''
| '''''Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.'''''
| {{sabdaweb2v|Kejadian 32 : 28}}
({{sabdaweb2v|Kejadian 32:28}})
}}
}}


Kalau kita mau belajar dari pergumulan ini adalah pergumulan Yakub di sungai yabok Apa yang  mau kita belajar dari kisah ini adalah; Sebagai orang percaya kita tahu bahwa ketika kita mengikut Tuhan bukan berarti hidup kita tanpa masalah. Kadang kita merasa bahwa Tuhan itu sengaja membawa kita ketempat yang bernama yabok, artinya apa, sebuah titik atau tempat dimana kita tidak punya pilihan lain, rasa takut terbesar yang kjta hadepi adalah sendirian.
Kisah ini berbicara tentang pergumulan Yakub di sungai Yabok. Dari kisah ini kita belajar bahwa sebagai orang percaya, mengikut Tuhan bukan berarti hidup kita bebas dari masalah. Kadang-kadang Tuhan membawa kita ke sebuah tempat seperti Yabok, yaitu titik di mana kita tidak punya pilihan lain, dan rasa takut terbesar harus kita hadapi seorang diri.


Sebelum kisah di sungai yabok ini kita tahu bahwa Yakub adalah seorang penipu yang ulung yang selalu mengandalkan kelicikannya, strategi dan kekuatannya. Namun kisah dimulai pada waktu itu di sungsi yabok , Tuhan datang bukan sebagsi sahabat yang menghibur Yakub tetapi sebagai lawan  yang bergumul dengan Yakub, kenapa? Karena pada waktu itu Tuhan ingin memulihkan terlebih dahalu Yakub dengan kakaknya Esau. Esau pada waktu itu berjumpa dengan Yakub setelah kejadian penipuan itu , ini perjalan Yakub pulang ke tanah kanaan.  
Sebelum peristiwa di sungai Yabok, kita tahu bahwa Yakub dikenal sebagai seorang yang sering mengandalkan kelicikan, strategi, dan kekuatannya sendiri. Namun pada malam itu, Tuhan datang bukan hanya sebagai sahabat yang menghibur, melainkan sebagai Pribadi yang bergumul dengan Yakub.


{{p0 | '''Ada 3 hal yang kita mau belajar, bahwa Tuhan mau  mengubah hidup kita itu ketika kita ada dalam masa-masa sulit :'''}}
Mengapa? Karena Tuhan ingin memulihkan Yakub terlebih dahulu sebelum ia bertemu kembali dengan Esau, kakaknya. Ini adalah perjalanan Yakub pulang ke tanah Kanaan setelah sekian lama hidup dengan masa lalu yang belum selesai.
# Tuhan kadang kadang menempatkan kita pada satu titik di mana kita harus mengosongkan diri, untuk meninggalkan rencana rencana yang ada depan diri kita. Sebelum bergulat bahwa Yakub itu menyeberangkan semua hartanya, kekayaannya dan dia tinggal seorang diri. Kata Yabok dalam bahasa Ibrani artinya mengosongkan. Artinya suatu titi kesendirian. Di titik inilah Tuhan menjumpai Yakub. Selama kita mempunyai rencana sering kali ,kita mengandalkan kekuatan kita sendiri. Uang, koneksi, kepintaran kita. Sering kali kita tidak berserah total kepada Tuhan. Tetapi ketika itu Tuhan menjadikan Yakub supaya  ia tidak bisa lagi lari dari  sifat unruk mengandalkan dirinya sendiri. Mungkin saat saat ini kita merasa  sendirian, kesepian dalam menghadapi masalah dan pergumulan kita. tapi Tuhan mau kita tidak kecewa, itulah saat-saat momen Yakub untuk diri kita. Tuhan sengaja menjauhkan kita dari apa yang bisa kita andalkan. Tuhan mau bahwa satu satunya pribadi yang kita andalkan adalah Tuhan itu sendiri. Untuk itu kita harus berhenti mengandalkan kekuatan, kepandaian kita sendiri. tetapi kita mau berserah dalam hadiratNya.


# Tuhan kita menghancurkan keegoan kita. Pada waktu di sungai yabok Tuhan memukul sendi paha Yakub sehingga dia terpelecok, pincang kakinya, apa artinya. Paha itu adalah tumpuan kekuatan seorang pegulat. Tuhan tidak ingin membunuh Yakub pada saat itu tapi yang ingin Tuhan bunuh adalah keegoannya, sifat keinginan mengandalkan kekuatannya sendiri. Setiap apa pun yang dia lakukan dia harus mengingat bahwa dia harus mengandalkan Tuhan. Ini adalah suatu kasih karunia Tuhan. Orang yang berhadapan muka dengan Tuhan pada waktu itu tidak bisa selamat pasti binasa. Tetapi karena kasih karunia Tuhan, dia tidak binasa. Artinya apa, seringkali Tuhan mengijinkan paha kita dipukul, kekuatan ,kita di runtuhkan, mungkin melalui bisnis kita yang menurun, kesehatan kita yang terganggu, kegagalan yang kita hadapi. Itu untuk apa, untuk menanggalkan kesombongan kita, supaya kita mempunyai sifat rendah hati. Di saat kita menyadari bahwa kita lemah, disitulah kuasa Tuhan menjadi sempurna.  
Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari kisah ini.
{{ol-list | liclass=h4
| 1= Tuhan membawa kita ke titik pengosongan diri
| p1=
Sebelum bergumul, Yakub menyeberangkan semua keluarganya, hamba-hambanya, dan hartanya, lalu ia tinggal seorang diri. Kata Yabok dalam bahasa Ibrani sering dikaitkan dengan makna “mengosongkan”. Ini menggambarkan sebuah titik kesendirian, di mana Yakub tidak lagi dapat bersembunyi di balik apa pun.


# Kejujuran dalam perubahan identitas. Kita tahu dari identitas Yakub adalah penipu, saat ketika berjumpa  dengan Tuhan dia menjadi pemenang. Ketika Tuhan bertanya siapa namamu , namanya Yakub, artinya apa, ketika dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dia mengalami pemulihan, mengalami transformasi. Awalnya dengan kejujuran dalam hati. Kita harus belajar menanggalkan topeng rohani dalam Tuhan. Kekuatan kita hanya dalam Tuhan. Supaya kita mengalami kemenangan, amin.
Di titik itulah Tuhan menjumpai Yakub.
}
 
Sering kali selama kita masih mempunyai banyak rencana, kita cenderung mengandalkan kekuatan sendiri: uang, koneksi, kepintaran, strategi, dan kemampuan kita. Tanpa sadar, kita belum benar-benar berserah total kepada Tuhan.
 
Namun Tuhan membawa Yakub ke titik di mana ia tidak bisa lagi lari dari kebiasaan mengandalkan diri sendiri. Mungkin saat ini kita juga sedang merasa sendirian, kesepian, atau tertekan dalam menghadapi masalah dan pergumulan. Tetapi jangan kecewa, karena mungkin itulah “momen Yabok” dalam hidup kita.
 
Tuhan sedang menjauhkan kita dari hal-hal yang biasa kita andalkan, supaya kita belajar bahwa satu-satunya Pribadi yang dapat sungguh-sungguh kita andalkan adalah Tuhan sendiri.
 
Karena itu, kita perlu berhenti mengandalkan kekuatan dan kepandaian kita sendiri, lalu belajar berserah penuh dalam hadirat-Nya.
 
| 2= Tuhan meruntuhkan ego kita
| p2=
Di sungai Yabok, Tuhan memukul sendi paha Yakub sehingga kakinya terpelecok dan ia menjadi pincang. Secara jasmani, paha adalah tumpuan kekuatan seorang pegulat. Tuhan tidak ingin membunuh Yakub, tetapi Tuhan ingin mematikan ego, kesombongan, dan kebiasaan Yakub mengandalkan kekuatannya sendiri.
 
Sejak saat itu, setiap kali Yakub berjalan, ia akan mengingat bahwa ia tidak bisa lagi hidup hanya dengan kekuatan sendiri. Ia harus mengandalkan Tuhan.
 
Ini adalah kasih karunia Tuhan. Pada masa itu, orang yang berhadapan muka dengan Tuhan seharusnya tidak dapat bertahan hidup. Namun karena kasih karunia, Yakub tidak binasa.
 
Sering kali Tuhan juga mengizinkan “paha” kita dipukul. Kekuatan kita diruntuhkan melalui bisnis yang menurun, kesehatan yang terganggu, kegagalan, tekanan hidup, atau keadaan yang membuat kita sadar bahwa kita tidak sekuat yang kita kira.
 
Bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menanggalkan kesombongan dan membentuk hati yang rendah. Ketika kita menyadari bahwa kita lemah, di sanalah kuasa Tuhan menjadi sempurna.
 
| 3= Tuhan mengubah identitas melalui kejujuran
| p3=
Yakub berarti penipu atau pengganti. Namun setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, namanya diubah menjadi Israel. Identitasnya dipulihkan dan hidupnya mengalami transformasi.
 
Ketika Tuhan bertanya, “Siapa namamu?” Yakub harus menjawab dengan jujur: “Yakub.” Di situ ia tidak bisa lagi bersembunyi. Ia harus mengakui siapa dirinya yang sebenarnya.
 
Perubahan hidup dimulai dari kejujuran di hadapan Tuhan. Kita perlu belajar menanggalkan topeng rohani dan datang kepada Tuhan apa adanya. Kekuatan kita bukan pada kemampuan, penampilan, atau pencapaian kita, tetapi hanya di dalam Tuhan.
 
Tuhan sanggup mengubah Yakub yang dahulu hidup dengan kelicikan menjadi Israel, seorang yang menang bersama Tuhan. Demikian juga Tuhan sanggup membentuk hidup kita. Kadang kita harus dilemahkan terlebih dahulu, supaya ego kita runtuh, hati kita dipulihkan, dan identitas kita diperbarui di dalam Tuhan.
}}
 
Karena itu, jangan takut ketika Tuhan membawa kita ke “Yabok” kehidupan. Di sanalah Tuhan sedang membentuk kita, bukan untuk kalah, tetapi untuk menjadi pemenang.
 
Amin.
 
----
 
'''''Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.'''''
({{sabdaweb2v|2 Korintus 12:9}})

Revisi per 21 Juli 2026 18.24

Ketika Tuhan bertanya siapa namamu , namanya Yakub, artinya apa, ketika dia mengalami perjumpasn dengan Tuhan, dia mengalami pemulihan, mengalami transformasi. Awalnya dengan kejujuran dalam hati. Kita harus belajar menanggalkan topeng rohani dalam Tuhan. Kekuatan kita hanya dalam Tuhan. Supaya kita mengalami kemenangan

Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”

(Kejadian 32:28)

— {{{footer}}}

Kisah ini berbicara tentang pergumulan Yakub di sungai Yabok. Dari kisah ini kita belajar bahwa sebagai orang percaya, mengikut Tuhan bukan berarti hidup kita bebas dari masalah. Kadang-kadang Tuhan membawa kita ke sebuah tempat seperti Yabok, yaitu titik di mana kita tidak punya pilihan lain, dan rasa takut terbesar harus kita hadapi seorang diri.

Sebelum peristiwa di sungai Yabok, kita tahu bahwa Yakub dikenal sebagai seorang yang sering mengandalkan kelicikan, strategi, dan kekuatannya sendiri. Namun pada malam itu, Tuhan datang bukan hanya sebagai sahabat yang menghibur, melainkan sebagai Pribadi yang bergumul dengan Yakub.

Mengapa? Karena Tuhan ingin memulihkan Yakub terlebih dahulu sebelum ia bertemu kembali dengan Esau, kakaknya. Ini adalah perjalanan Yakub pulang ke tanah Kanaan setelah sekian lama hidup dengan masa lalu yang belum selesai.

Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari kisah ini.

  1. Tuhan membawa kita ke titik pengosongan diri
  2. Sebelum bergumul, Yakub menyeberangkan semua keluarganya, hamba-hambanya, dan hartanya, lalu ia tinggal seorang diri. Kata Yabok dalam bahasa Ibrani sering dikaitkan dengan makna “mengosongkan”. Ini menggambarkan sebuah titik kesendirian, di mana Yakub tidak lagi dapat bersembunyi di balik apa pun.

    Di titik itulah Tuhan menjumpai Yakub.

    Sering kali selama kita masih mempunyai banyak rencana, kita cenderung mengandalkan kekuatan sendiri: uang, koneksi, kepintaran, strategi, dan kemampuan kita. Tanpa sadar, kita belum benar-benar berserah total kepada Tuhan.

    Namun Tuhan membawa Yakub ke titik di mana ia tidak bisa lagi lari dari kebiasaan mengandalkan diri sendiri. Mungkin saat ini kita juga sedang merasa sendirian, kesepian, atau tertekan dalam menghadapi masalah dan pergumulan. Tetapi jangan kecewa, karena mungkin itulah “momen Yabok” dalam hidup kita.

    Tuhan sedang menjauhkan kita dari hal-hal yang biasa kita andalkan, supaya kita belajar bahwa satu-satunya Pribadi yang dapat sungguh-sungguh kita andalkan adalah Tuhan sendiri.

    Karena itu, kita perlu berhenti mengandalkan kekuatan dan kepandaian kita sendiri, lalu belajar berserah penuh dalam hadirat-Nya.
  3. Tuhan meruntuhkan ego kita
  4. Di sungai Yabok, Tuhan memukul sendi paha Yakub sehingga kakinya terpelecok dan ia menjadi pincang. Secara jasmani, paha adalah tumpuan kekuatan seorang pegulat. Tuhan tidak ingin membunuh Yakub, tetapi Tuhan ingin mematikan ego, kesombongan, dan kebiasaan Yakub mengandalkan kekuatannya sendiri.

    Sejak saat itu, setiap kali Yakub berjalan, ia akan mengingat bahwa ia tidak bisa lagi hidup hanya dengan kekuatan sendiri. Ia harus mengandalkan Tuhan.

    Ini adalah kasih karunia Tuhan. Pada masa itu, orang yang berhadapan muka dengan Tuhan seharusnya tidak dapat bertahan hidup. Namun karena kasih karunia, Yakub tidak binasa.

    Sering kali Tuhan juga mengizinkan “paha” kita dipukul. Kekuatan kita diruntuhkan melalui bisnis yang menurun, kesehatan yang terganggu, kegagalan, tekanan hidup, atau keadaan yang membuat kita sadar bahwa kita tidak sekuat yang kita kira.

    Bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menanggalkan kesombongan dan membentuk hati yang rendah. Ketika kita menyadari bahwa kita lemah, di sanalah kuasa Tuhan menjadi sempurna.
  5. Tuhan mengubah identitas melalui kejujuran
  6. Yakub berarti penipu atau pengganti. Namun setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, namanya diubah menjadi Israel. Identitasnya dipulihkan dan hidupnya mengalami transformasi.

    Ketika Tuhan bertanya, “Siapa namamu?” Yakub harus menjawab dengan jujur: “Yakub.” Di situ ia tidak bisa lagi bersembunyi. Ia harus mengakui siapa dirinya yang sebenarnya.

    Perubahan hidup dimulai dari kejujuran di hadapan Tuhan. Kita perlu belajar menanggalkan topeng rohani dan datang kepada Tuhan apa adanya. Kekuatan kita bukan pada kemampuan, penampilan, atau pencapaian kita, tetapi hanya di dalam Tuhan.

    Tuhan sanggup mengubah Yakub yang dahulu hidup dengan kelicikan menjadi Israel, seorang yang menang bersama Tuhan. Demikian juga Tuhan sanggup membentuk hidup kita. Kadang kita harus dilemahkan terlebih dahulu, supaya ego kita runtuh, hati kita dipulihkan, dan identitas kita diperbarui di dalam Tuhan.

Karena itu, jangan takut ketika Tuhan membawa kita ke “Yabok” kehidupan. Di sanalah Tuhan sedang membentuk kita, bukan untuk kalah, tetapi untuk menjadi pemenang.

Amin.


Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)