Article: 20260705/IN: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Jaen (bicara | kontrib)
←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=inspirational | namespace= Article | pagename= 20260705/IN | title= Ketika iman kita diuji | date= 2026-07-05 | event= Renungan Air Hidup | displayevent= Renungan | actualdate= 2025-06-25 | notes= | name= Johan Susanto | completename= Pdp Johan Susanto | illustration16x9= Logo Inspirational.webp | illustration1x1= Logo Inspirational 1x1.webp | illustrationA5= | summary= Badai kehidupan sering kali menguji iman kita da...'
 
Leo (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 15: Baris 15:
  | summary= Badai kehidupan sering kali menguji iman kita dan membuat kita merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli. Namun Yesus tetap berkuasa atas setiap badai dan tidak pernah kehilangan kendali atas hidup orang percaya. Karena itu, iman kita harus bertumpu pada Kristus, bukan pada keadaan atau kemampuan kita sendiri.
  | summary= Badai kehidupan sering kali menguji iman kita dan membuat kita merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli. Namun Yesus tetap berkuasa atas setiap badai dan tidak pernah kehilangan kendali atas hidup orang percaya. Karena itu, iman kita harus bertumpu pada Kristus, bukan pada keadaan atau kemampuan kita sendiri.
  | shortsummary= Badai kehidupan sering kali menguji iman kita dan membuat kita merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli.
  | shortsummary= Badai kehidupan sering kali menguji iman kita dan membuat kita merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli.
  | release=no
  | release=yes
}}
}}
{{blockquote/Ayat
{{blockquote/Ayat

Revisi terkini sejak 8 Juli 2026 06.46

Badai kehidupan sering kali menguji iman kita dan membuat kita merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli. Namun Yesus tetap berkuasa atas setiap badai dan tidak pernah kehilangan kendali atas hidup orang percaya. Karena itu, iman kita harus bertumpu pada Kristus, bukan pada keadaan atau kemampuan kita sendiri.

Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

Markus 4:38-39

Para murid yang telah dipanggil untuk mengikut Yesus ternyata memiliki iman yang tidak jauh berbeda dari iman kebanyakan orang. Hal itu terlihat ketika topan melanda perahu mereka.

Bukankah kita sebagai orang percaya juga sering mengalami hal yang sama ketika iman kita diuji oleh badai kehidupan? Pada saat kita sangat membutuhkan pertolongan Yesus, kadang pertolongan itu terasa seperti tidak ada.

  1. Apakah Tuhan peduli?
  2. Seperti para murid, kadang kita pun menganggap Tuhan tidak peduli.

    Ketika badai datang, para murid berkata kepada Yesus, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Perkataan itu menunjukkan ketakutan yang besar dan iman yang sedang goyah.

    Bukankah Yesus yang memanggil kita untuk mengikut-Nya pasti juga akan menyertai kita sampai akhir? Ia tidak pernah meninggalkan kita, sekalipun keadaan membuat kita merasa seolah-olah sendirian.
  3. Tuhan menunjukkan kepedulian-Nya dengan cara-Nya
  4. Ketika Yesus bangun, Ia menghardik angin dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin reda dan danau menjadi teduh sekali.

    Ini mengingatkan kita bahwa Yesus berkuasa atas alam semesta. Badai sebesar apa pun tidak lebih besar dari kuasa-Nya. Dan Yesus yang berkuasa itu sangat peduli kepada hidup setiap orang yang percaya kepada-Nya.

    Kadang Yesus menunjukkan kepedulian-Nya bukan dengan cara yang sesuai dengan pikiran kita. Para murid adalah nelayan yang berpengalaman dan tahu apa yang harus dilakukan di tengah danau. Namun pada saat badai besar datang, pengalaman mereka ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan mereka.

Dari sini kita belajar bahwa iman kepada Kristus akan menjadi kokoh ketika kita tidak lagi bergantung pada kemampuan kita sendiri, melainkan menjadikan Yesus sebagai satu-satunya harapan.

Sering kali ketakutan kita merupakan tanda bahwa kita gagal percaya bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas hidup kita. Memang diperlukan iman yang besar untuk percaya bahwa Tuhan yang tampaknya “sedang tidur” tetap memperhatikan kita.

Inilah iman yang ingin dibangun Yesus dalam diri para murid, dan juga dalam diri kita saat ini.

Sebagai orang Kristen sejati, kita harus percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang Mahakuasa. Jika Yesus ada di dalam hidup kita, maka tidak ada satu badai atau masalah apa pun yang dapat menenggelamkan hidup kita.

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?" (Markus 4:40-41)

Tuhan Yesus memberkati kita semua.