Khotbah: 20260712-1700: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Leo (bicara | kontrib)
baru
 
Leo (bicara | kontrib)
 
Baris 248: Baris 248:
Karena itu, kalau Saudara sedang mengalami keadaan yang tidak baik—mungkin kehilangan pekerjaan, mengalami masalah kesehatan, kerugian, atau pergumulan yang sangat besar—jangan meninggalkan Tuhan.
Karena itu, kalau Saudara sedang mengalami keadaan yang tidak baik—mungkin kehilangan pekerjaan, mengalami masalah kesehatan, kerugian, atau pergumulan yang sangat besar—jangan meninggalkan Tuhan.


Belajarlah tetap bersyukur. Tetap puji Tuhan. Tetap berdoa dan menyembah Tuhan.
Belajarlah tetap bersyukur.<br />
 
Tetap puji Tuhan.<br />
Tetap berdoa dan menyembah Tuhan.<br />
Walaupun seolah-olah Tuhan belum mendengar doamu, walaupun seolah-olah Tuhan belum menjawab, tetaplah datang kepada-Nya.
Walaupun seolah-olah Tuhan belum mendengar doamu, walaupun seolah-olah Tuhan belum menjawab, tetaplah datang kepada-Nya.



Revisi terkini sejak 14 Juli 2026 14.47

Tidak setiap penderitaan terjadi karena dosa, sebab seperti Ayub, orang yang hidup saleh pun dapat mengalami ujian yang Tuhan izinkan untuk memurnikan iman dan memperdalam pengenalannya akan Allah. Di tengah kehilangan harta, keluarga, kesehatan, dukungan, dan saat Tuhan seolah-olah diam, Ayub tetap membawa pergumulannya kepada Tuhan, sujud menyembah, dan tidak meninggalkan imannya. Pada akhirnya Ayub mengalami sendiri bahwa Tuhan sanggup memakai setiap proses, memulihkan kehidupannya, dan menggenapi rencana-Nya, sehingga tidak ada satu pun rencana Tuhan yang dapat gagal.

Shalom, Bapak, Ibu. Tema kita hari ini adalah Tidak Ada Rencana Tuhan yang Gagal. Hari ini saya akan menyoroti kehidupan seorang tokoh Alkitab yang sangat luar biasa, yaitu Ayub.

Ketika kita berbicara tentang Ayub, apa yang biasanya terlintas dalam pikiran kita? Tentang penderitaan, kesukaran, dan masalah. Makanya, ketika ada orang Kristen menghadapi masalah yang sangat berat, salah satu kitab yang sering dicari dan dibaca adalah Kitab Ayub.

Di dalam Ayub 42:2, Ayub berkata:

Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Setelah Ayub melewati begitu banyak masalah dan kesukaran, pada akhirnya dia sampai kepada satu deklarasi iman yang luar biasa:

Aku tahu Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Ini adalah deklarasi iman yang sangat luar biasa.

Untuk memahami perjalanan hidup Ayub secara lebih mendalam, saya akan membaginya ke dalam tiga fase.

#1 Fase Firdaus

Fase pertama saya sebut sebagai fase Firdaus. Di dalam fase ini, kehidupan Ayub begitu bahagia, seperti berada di taman firdaus.

Ayub belum mengalami penderitaan yang berat. Secara materi, keluarga, kesehatan, maupun kerohanian, semuanya berjalan dengan baik. Singkatnya, Ayub dan keluarganya hidup sangat bahagia dan sangat diberkati.

Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. (Ayub 1:2)

Ayub mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Di dalam budaya Ibrani kuno, angka sepuluh sering menggambarkan kelengkapan. Artinya, Ayub memiliki keluarga yang lengkap dan diberkati.

Bagaimana dengan kekayaannya?

Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur. (Ayub 1:3)

Itulah daftar kekayaan Ayub. Dia menjadi orang terkaya dari semua orang di Timur pada zamannya. Ternyata Ayub adalah seorang konglomerat.

Kita melihat hidup Ayub sangat sukses. Secara jasmani, materi, dan keluarga, dia diberkati dengan luar biasa. Tubuhnya sehat dan, yang tidak kalah penting, hidupnya saleh.

Menariknya, kesalehan Ayub bukan sekadar penilaian manusia. Kesalehan Ayub diakui sendiri oleh Tuhan.

Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:8)

Saudara boleh menilai seseorang saleh atau jujur, tetapi belum tentu penilaian manusia sama dengan penilaian Tuhan. Namun Ayub luar biasa. Tuhan sendiri mengakui bahwa Ayub adalah orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan.

Karena itu saya katakan bahwa Ayub adalah orang yang sangat istimewa.

Yang pertama, Ayub sangat kaya.
Yang kedua, Ayub sangat saleh.

Kaya dan saleh adalah kombinasi yang menarik dan langka. Karena ada orang kaya yang tidak saleh. Ada orang saleh yang tidak kaya. Yang lebih parah, sudah tidak kaya, tidak saleh juga. Tetapi Ayub luar biasa. Dia sangat kaya dan tetap hidup saleh.

Mengapa ini langka? Karena semakin besar kekayaan dan kekuasaan seseorang, biasanya semakin banyak pula godaan yang harus dia hadapi. Namun sekalipun Ayub memiliki kekayaan yang sangat besar, dia tetap takut akan Tuhan.

Itulah masa keemasan Ayub, fase Firdaus dalam kehidupannya.

#2 Fase Lembah Kekelaman

Setelah itu, Ayub memasuki fase kedua, yang saya sebut sebagai fase lembah kekelaman.

Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?
Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.
Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”
Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.
(Ayub 1:9-12)

Fase kedua ini diawali dengan percakapan antara Tuhan dan Iblis. Iblis menuduh bahwa Ayub hanya takut kepada Tuhan karena Tuhan memberkati dan melindunginya. Dengan kata lain, Iblis berkata, “Ayub setia karena dia mendapat keuntungan. Coba semua berkat itu diambil, dia pasti akan meninggalkan dan mengutuki Engkau.”

Tuhan kemudian mengizinkan Ayub mengalami ujian, tetapi tetap menetapkan batas bagi Iblis.

Kita perlu memahami baik-baik: Tuhan bukan bersekongkol dengan Iblis untuk menghancurkan Ayub. Iblis ingin merusak dan menghancurkan iman Ayub, sedangkan Tuhan mengizinkan ujian itu untuk menyatakan sekaligus memurnikan iman Ayub.

Tujuan Iblis adalah kehancuran.
Tujuan Tuhan adalah pemurnian.

Sebelumnya, Ayub memang sudah saleh. Namun melalui proses ini, pengenalan Ayub akan Tuhan akan dibawa semakin dalam. Bukan lagi sekadar berdasarkan apa yang dia dengar, tetapi berdasarkan perjumpaan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan.

Sejak saat itulah penderitaan demi penderitaan datang menghampiri kehidupan Ayub.

Ayub kehilangan seluruh hartanya

Datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: “Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya,
datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaga-penjaga dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaga-penjaga dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”
(Ayub 1:14-17)

Dalam waktu yang sangat singkat, seluruh kekayaan Ayub habis. Ternak dan para pekerjanya lenyap. Dari orang yang sangat kaya, dia jatuh menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa.

Bayangkan, Saudara, dari seorang konglomerat, langsung bangkrut dalam satu hari.

Kalau seluruh kekayaan itu dikonversikan ke nilai masa kini, nilainya sangat besar, mungkin ratusan miliar rupiah. Tetapi yang jelas, kerugian itu sangat besar dan menghancurkan seluruh sumber penghidupannya.

Ada orang yang ketika mengalami kerugian besar tidak sanggup menanggung tekanannya. Namun Ayub masih berdiri.

Ayub kehilangan anak-anaknya

Iblis kemudian menyerang bagian yang sangat dikasihi Ayub, yaitu anak-anaknya.

Dalam satu hari, kesepuluh anaknya meninggal. Kehilangan satu anak saja merupakan penderitaan yang sangat berat bagi orang tua. Ayub kehilangan sepuluh anaknya dalam satu hari.

Dia kehilangan seluruh harta dan seluruh anaknya dalam waktu yang sangat singkat. Namun Ayub masih bertahan.

Ayub kehilangan kesehatannya

Kemudian kesehatannya diserang.

Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu. (Ayub 2:7-8)

Penyakit yang dialami Ayub sangat parah. Rasa sakit dan gatalnya begitu hebat sampai dia menggaruk tubuhnya dengan pecahan beling. Seluruh tubuhnya rusak dan dipenuhi luka.

Bahkan ketika teman-temannya datang, mereka hampir tidak mengenalinya lagi. Luar biasa penderitaan Ayub. Dia kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatan. Tetapi dia masih bertahan.

Ayub kehilangan dukungan istrinya

Kemudian datang pukulan berikutnya: Ayub kehilangan dukungan dari istrinya.

Saya percaya, sesusah-susahnya kita dan semenderita-menderitanya kita, kalau masih ada dukungan dari pasangan hidup, kita akan merasa lebih kuat.

Namun istri Ayub berkata:

“Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9)

Satu-satunya orang yang diharapkan dapat memberikan kekuatan justru menyuruhnya berhenti berpegang kepada Tuhan. Bagi Ayub, ini merupakan pukulan yang sangat berat. Namun walaupun sudah sempoyongan, dia masih bertahan.

Dari kisah ini kita belajar satu hal penting: tidak setiap penderitaan terjadi karena dosa pribadi. Memang ada penderitaan yang merupakan akibat dosa atau teguran Tuhan. Tetapi tidak selalu demikian. Ayub adalah orang saleh. Justru karena kesalehan dan imannya, dia menjadi sasaran serangan Iblis.

Karena itu jangan cepat menghakimi orang yang sedang sakit, bangkrut, atau mengalami masalah berat dengan berkata bahwa semuanya pasti karena dosa.

Ada jemaat yang pernah bertanya kepada saya, “Pak, dulu waktu saya belum ikut Yesus, hidup saya baik-baik saja. Bisnis lancar, keluarga baik. Tapi kenapa setelah saya ikut Yesus, masalah justru datang bertubi-tubi?”

Saya katakan, menjadi orang Kristen bukan berarti hidup kita pasti bebas dari masalah. Apalagi kalau kita sungguh-sungguh mengikut dan melayani Tuhan, kehidupan kita dapat menjadi ancaman bagi pekerjaan Iblis.

Namun Saudara tidak perlu takut. Yang terpenting adalah bagaimana sikap kita ketika menghadapi situasi tersebut.

#3 Fase Pemulihan

Sekarang kita masuk ke fase ketiga, yaitu fase pemulihan.

Ayub mengalami pemulihan setelah melewati penderitaan yang sangat berat karena dia menunjukkan respons iman yang benar.

Ayub tidak menyalahkan Tuhan

Yang pertama, Ayub tidak mengutuki atau meninggalkan Tuhan karena penderitaannya. Banyak orang ketika menderita cenderung menyalahkan Tuhan dan keadaan. Kita mulai mengungkit semua yang pernah kita lakukan.

“Tuhan, aku sudah melayani Engkau.”
“Tuhan, aku sudah memberikan persepuluhan.”
“Tuhan, aku tidak berbuat jahat kepada orang.”
“Tapi kenapa hidupku seperti ini?”

Namun Ayub memberikan respons yang berbeda.

Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyakkan jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:20-21)

Walaupun mengalami penderitaan yang sangat hebat, Ayub masih dapat sujud dan menyembah Tuhan.

Ini membuktikan bahwa kesalehan Ayub bukan semata-mata karena dia memperoleh berkat dan perlindungan Tuhan, seperti yang dituduhkan Iblis. Ayub hidup saleh karena dia memiliki hati yang takut akan Tuhan.

Ayub tetap mencari Tuhan di tengah keheningan

Setelah harta hilang, anak-anak meninggal, kesehatan hancur, dan dukungan istrinya melemah, Ayub juga mengalami satu keadaan yang sangat menyakitkan: seolah-olah Tuhan diam dan tidak menjawabnya.

Kita perlu berhati-hati dalam menjelaskan bagian ini. Bukan berarti Tuhan benar-benar meninggalkan Ayub, tetapi Ayub mengalami masa ketika dia tidak dapat merasakan kehadiran dan jawaban Tuhan.

Di tengah kebangkrutan dan kesakitannya, Ayub berdoa. Tetapi seolah-olah tidak ada jawaban. Tuhan tidak segera menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Namun Ayub tidak berhenti mencari Tuhan. Dia tidak berhenti bergumul dan berbicara kepada-Nya. Walaupun dalam pergumulannya Ayub sempat mengeluh dan mempertanyakan keadaannya, dia tetap membawa seluruh pergumulannya kepada Tuhan, bukan meninggalkan Tuhan.

Ayub tetap percaya bahwa di balik semua yang terjadi, Tuhan memiliki rencana. Akhirnya, iman Ayub keluar dari ujian itu seperti emas yang dimurnikan. Dulu Ayub mengenal Allah dari apa yang dia dengar. Tetapi setelah melewati seluruh proses itu, dia berkata:

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5)

Inilah tujuan terdalam dari proses Ayub: pengenalannya akan Tuhan menjadi pribadi dan nyata.

Tuhan memulihkan Ayub

Pada akhirnya Tuhan memulihkan keadaan Ayub.

Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. (Ayub 42:10)

Ayub kembali memperoleh tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.

Seluruh hartanya dipulihkan dua kali lipat. Namun kita perlu mengerti bahwa pemulihan Tuhan bukan berarti anak-anak yang telah meninggal dapat dianggap sekadar “diganti”. Setiap pribadi tetap berharga dan kehilangan itu tetap nyata.

Yang hendak dinyatakan oleh Alkitab adalah bahwa penderitaan bukan menjadi akhir dari kisah Ayub. Tuhan tetap memegang kehidupannya dan membawa Ayub kepada pengenalan, pemulihan, serta berkat yang lebih besar.

Penutup

Saya tutup dengan satu ilustrasi.

Ada seorang anak yang ditinggal meninggal oleh ibunya. Sebelum meninggal, ibunya memberikan sebuah kalung imitasi sebagai warisan.

Karena sangat mengasihi ibunya, anak itu menjaga kalung tersebut dengan sebaik-baiknya. Itu adalah satu-satunya peninggalan dari ibunya.

Papanya mengetahui hal tersebut dan merasa kasihan melihat anak itu. Kemudian dia memanggil anaknya.

“Nak, apakah kamu sayang Papa?”

“Iya, Pa. Saya sayang Papa.”

“Kalau kamu sayang Papa, berikan kalung itu kepada Papa.”

Anak itu terdiam dan menggenggam kalungnya. Papanya tidak memaksa dan kemudian pergi.

Besoknya papanya datang lagi. “Nak, apakah kamu sayang Papa?”

“Sayang, Pa.”

“Kalau kamu sayang, bolehkah kamu memberikan kalung itu kepada Papa?”

Kembali anak itu terdiam. Papanya pergi lagi.

Hari berikutnya, papanya datang sekali lagi. “Nak, kalau kamu sayang Papa, berikan kalung itu kepada Papa.”

Akhirnya anak itu berkata, “Pa, memang saya sangat sayang kepada kalung ini. Tetapi saya lebih sayang kepada Papa. Kalau Papa menginginkan kalung ini, silakan ambil.”

Papanya menerima kalung imitasi itu dengan tangan kanannya. Kemudian dengan tangan kirinya dia mengambil sesuatu dari sakunya. “Nak, ini Papa simpan untuk kamu.”

Ternyata yang diberikan ayahnya adalah kalung emas yang asli.

Sering kali sebagai manusia, kita tidak rela ketika sesuatu yang sangat kita sayangi hilang atau harus kita lepaskan. Padahal mungkin yang kita pertahankan hanyalah sesuatu yang sementara, sedangkan Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih baik bagi kehidupan kita.

Ini bukan berarti setiap kehilangan pasti langsung diganti secara materi atau sesuai dengan yang kita inginkan. Tetapi kita percaya bahwa tidak ada penderitaan orang percaya yang sia-sia di tangan Tuhan. Dia sanggup memakai setiap proses untuk membentuk, memurnikan, dan membawa kita semakin mengenal-Nya.

Karena itu, kalau Saudara sedang mengalami keadaan yang tidak baik—mungkin kehilangan pekerjaan, mengalami masalah kesehatan, kerugian, atau pergumulan yang sangat besar—jangan meninggalkan Tuhan.

Belajarlah tetap bersyukur.
Tetap puji Tuhan.
Tetap berdoa dan menyembah Tuhan.
Walaupun seolah-olah Tuhan belum mendengar doamu, walaupun seolah-olah Tuhan belum menjawab, tetaplah datang kepada-Nya.

Tuhan yang menolong Ayub adalah Tuhan yang sama yang akan menolong Saudara dan saya.

Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Ayub 42:2

Amin. Beri kemuliaan bagi Tuhan!

Nyanyi:

Penyertaan-Mu Tuhan
Segalanya bagiku
Hadir-Mu di hidupku
Terutama bagiku

Anugerah-Mu, anugerah-Mu
Semua karena Anugerah-Mu
Bukan karena kekuatanku

Anugerah-Mu, anugerah-Mu Tuhan
Kasih dan sayang-Mu,
Sumber kekuatan bagiku