Khotbah: 20260125-0930: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Leo (bicara | kontrib)
upd
 
Leo (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 26: Baris 26:
| video1hosttitle=  
| video1hosttitle=  
| video1hostinitial=  
| video1hostinitial=  
| downloadfilename=Nama file.pdf
| downloadfilename=
| downloadcaption=Unduh materi <span class="fa fa-file-pdf"><span>
| downloadcaption=Unduh materi <span class="fa fa-file-pdf"><span>
| longsummary=  
| longsummary=  

Revisi terkini sejak 27 Januari 2026 18.29

Kebahagiaan sejati bukan berasal dari situasi, harta, atau relasi, melainkan dari hati yang utuh dan penuh oleh kasih karunia Tuhan. Tuhan memanggil kita untuk bangkit dari luka, berharap hanya kepada-Nya, dan giat melakukan kehendak-Nya, karena di situlah sumber damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Ketika kita hidup mengasihi Tuhan dan sesama serta setia menjalankan perintah dan amanat-Nya, Tuhan memahkotai hidup kita dengan kebaikan, sehingga kita dapat hidup bahagia dan mati pun bahagia.

Shalom, saya ingin menyapa juga Bapak, Ibu, Saudara yang mengikuti ibadah secara online. Puji Tuhan. Ada pantun buat Bapak/Ibu yang mengikuti ibadah secara online:

Kalau ikan di dalam kolam,
bunga tumbuh di tengah taman.

Kalau kasih sudah begitu mendalam,
ketemu lewat online tetap saja berasa nyaman.

Puji Tuhan. Kalau yang onsite, pantunnya apa ya?

Every day I miss you.
Happy Sunday and God bless you.

Amin!

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, banyak manusia ingin hidupnya bahagia. Itu wajar. Setiap manusia ingin hidup bahagia. Tetapi kenyataannya, hari-hari ini banyak orang justru merasa sulit untuk bahagia. Karena itu, banyak orang mencari kebahagiaan di luar—melalui pekerjaan, kesuksesan karier, harta, pergaulan, dan lain sebagainya. Namun ternyata semua itu sering berakhir dengan kekecewaan.

Manusia memang membutuhkan hidup yang bahagia. Hari ini saya ingin berbagi dengan satu tema: Bahagia itu mudah.
Dulu saya berpikir bahagia itu susah. Bahagia itu harus diperjuangkan. Kalau kaya pasti bahagia. Kalau karier sukses pasti bahagia. Kalau posisinya tinggi pasti bahagia. Tapi kenyataannya tidak sedikit orang yang secara materi berlimpah-limpah, tetapi tidak bahagia—karena pasangannya, karena anaknya jatuh dalam masalah yang berat, atau karena tekanan hidup yang besar. Akhirnya stres, depresi, dan tetap tidak bahagia.

Tetapi setelah saya mengerti kebenaran Firman Tuhan, saya menyadari bahwa bahagia itu adalah anugerah Tuhan. Dan anugerah Tuhan itu pasti baik dan mendatangkan kebahagiaan.

Suatu hari, ketika saya menanti-nantikan Tuhan di awal tahun 2026—di tengah banyak orang berkata bahwa tahun ini tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dan keadaan terasa berat—saya bertemu seorang teman yang bekerja di marketplace sebuah perusahaan multinasional. Saya bertanya, “Bro, gimana 2026?” Dia jawab, “Wah, berat, Mon.”

Namun puji Tuhan, saat saya menanti-nantikan Tuhan, saya mendapatkan kekuatan dari Firman Tuhan dalam Mazmur 65:12,

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak.

Ayat ini menguatkan saya, karena Tuhan berjanji memahkotai tahun-tahun yang kita jalani dengan kebaikan-Nya. Amin. Dan saya percaya, kebaikan Tuhan pasti membawa kebahagiaan. Haleluya!

Pertanyaannya sekarang, bagaimana supaya kita bisa hidup bahagia? Hari ini saya ingin membagikan tiga rahasia untuk mengalami kebahagiaan. Dan ternyata, bahagia itu memang mudah.

Rahasia pertama: Bangunlah

Katakan sama-sama, bangunlah.

Amsal 17:22,

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

Keadaan hidup kita sangat ditentukan oleh kondisi hati kita. Karena itu Tuhan berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kehidupan seperti apa yang kita alami sangat tergantung pada kondisi hati kita.

Hidup ini memang penuh tantangan, Bapak, Ibu. Setuju? Kalau sedikit, namanya rantangan—paling lima susun. Tapi hidup ini penuh cobaan. Tantangan demi tantangan, kita bisa mengalami kesakitan, kegagalan, bahkan rasa malu.

Saya sendiri pernah mengalami kegagalan—sebagai seorang bapak, sebagai seorang suami, bahkan sebagai seorang hamba Tuhan. Itu menyakitkan dan memalukan. Orang lain juga bisa melukai kita. Ada orang yang baik, setengah baik, dan ada juga yang tidak baik sama sekali.

Namun, Bapak, Ibu, Saudara, kesembuhan adalah tanggung jawab kita.
Trauma mungkin bukan salah kita, tetapi healing is your responsibility.

Rasul Paulus menggambarkan murid Kristus seperti seorang olahragawan. Seorang atlet hanya bisa mendapatkan mahkota kalau bertanding sesuai peraturan. Dalam pertandingan sepak bola atau basket, ada yang tersikut, jatuh, dan terluka. Tetapi mereka bangun lagi. Mereka tidak berguling-guling terus sepanjang pertandingan. Kalau bisa bangun, mereka bangun. Kalau tidak, baru ditandu keluar. Karena mereka tahu: ini pertandingan, kita mau jadi juara.

Demikian juga hidup kita di dalam Tuhan. Hidup kita adalah hidup seperti Kristus telah hidup. Yesus datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Karena Ia melayani dengan benar, Injil diberitakan dengan efektif dan banyak orang hatinya terbuka menerima kebenaran. Setelah itu, Yesus memuridkan mereka.

Penginjilan adalah upaya membawa orang yang belum percaya menjadi percaya.
Pemuridan adalah upaya menolong orang yang sudah percaya supaya bertumbuh semakin serupa dengan Kristus.

Untuk menuntaskan Amanat Agung, kita harus melayani. Dan melayani harus dari kelimpahan, bukan dari kekurangan. Kelimpahan pertama-tama harus ada di hati.

Seperti sebuah botol: kalau botol itu utuh dan penuh, airnya bisa dibagikan. Tapi kalau botol itu bocor—bocor karena sakit hati, kepahitan, iri hati, kebencian, keterikatan pada dosa, kebiasaan buruk, pornografi, trauma—mau diisi sebanyak apa pun tidak akan pernah penuh.

Sebaliknya, kalau hati kita utuh, kita bisa dipenuhi. Dan dari kelimpahan itulah kita bisa mengalirkan kehidupan kepada orang lain.

Tanda orang yang hatinya utuh dan penuh adalah buah kemurahan hati.
Seperti Tuhan yang murah hati, demikian juga orang yang hatinya utuh dan penuh akan membangun hubungan yang sehat—hubungan yang saling positif: saling memperhatikan, saling memberi, saling mendoakan.

Konflik bisa terjadi, Pastor? Bisa.
Tetapi orang yang utuh dan penuh akan lebih mudah untuk saling mengampuni. Sebaliknya, kalau hati seseorang tidak utuh dan tidak penuh, buahnya adalah tuntutan. Sedikit-sedikit menuntut, sedikit-sedikit menyalahkan. Hubungannya bukan lagi saling membangun, tetapi saling menuduh, saling curiga, saling menyakiti.

Karena itu, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, supaya kita bisa kembali utuh dari luka-luka emosi, kita harus bangun. Kalau kita sadar sedang sakit, jangan diam. Bangkitlah dan upayakan kesembuhan.

Kunci untuk mengalami kesembuhan adalah kerendahan hati.
Orang yang rendah hati sadar bahwa dirinya tidak sempurna, bisa terluka, dan sangat membutuhkan kasih karunia Allah. Kalau hari ini ada di antara kita yang sedang terluka—baik yang hadir onsite maupun yang di rumah—marilah dengan rendah hati datang kepada Tuhan.

Kita perlu ingat, yang bisa menyembuhkan kita secara sempurna hanyalah Tuhan di dalam nama Yesus. Ada tertulis, “Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu dan mengobati luka-lukamu,” Firman Tuhan. Namun Tuhan juga bisa memakai cara lain untuk menyembuhkan hati kita, yaitu melalui hubungan dengan sesama.

Firman Tuhan berkata, “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh.” Artinya, Tuhan bisa memakai sesama untuk menolong kita. Karena itu, jangan sendirian. Perhatikan hubungan kita dengan keluarga, tetapi kita juga perlu keluarga rohani—community of faith, COOL—supaya kita tidak berjalan sendiri. Ketika terluka, kecewa, atau gagal, ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk menolong kita pulih.

Kerendahan hati akan memudahkan kita untuk sembuh.
Kalau lahir saja masih ditolong orang, dan kalau mati pun masih digotong orang, jangan sombonglah ya. Setuju? Kecuali kalau bisa lahir sendiri dari perut mama lalu bilang, “Halo, saya sudah lahir,” atau mati lalu menggali kubur sendiri—baru boleh sombong. Tapi setahu saya, orang terkaya di dunia pun, waktu meninggal, tetap digotong orang.

Ada yang berkata begini: “Kalau setan tidak bisa membuat kamu berbuat jahat, dia akan membuat kamu merasa paling pintar dan paling benar.” Saya sendiri pernah mengalami kegagalan dan luka. Cara saya bangun dan sembuh waktu itu sederhana: saya curhat sama Tuhan. Karena saat itu tidak semua orang siap menerima curhatan saya. Lalu yang kedua, saya belajar—belajar bagaimana memulihkan hati, dan melakukan apa yang saya pelajari.

Karena itu, kalau Bapak, Ibu, Saudara terluka, bangunlah dan obatilah lukanya. Tuhan adalah penyembuh kita. Manusia bisa dipakai Tuhan. Konselor profesional pun bisa dipakai Tuhan untuk menolong dan menyembuhkan luka kita. Yang mau sehat dan sembuh katakan amin.

Jalan-jalan ke Blora beli soto babat.
Hati yang gembira adalah obat.

Haleluya!

Rahasia kedua: Harapkanlah Tuhan

Supaya kita bisa bahagia, setelah sembuh, teruslah berharap kepada Tuhan. Firman Tuhan dalam Yeremia 17:7 berkata, Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Amin.

Mari kita cek hari ini, apa yang sedang kita harapkan? Apakah kita masih mengharapkan manusia, perhatian manusia, atau pengakuan manusia? Kalau masih mengandalkan manusia, Firman Tuhan jelas berkata sebelumnya, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan kekuatan sendiri.”

Banyak orang berkata tahun 2026 akan penuh badai dan goncangan. Tetapi saya mau katakan, pelaut yang tangguh tidak dilahirkan dari ombak yang tenang. Pelaut yang tangguh lahir dari badai yang dahsyat. Bukankah nenek moyang kita seorang pelaut? Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa.

Di dalam Yesus, selalu ada pengharapan yang pasti. Jadi, berharaplah kepada Tuhan, bukan kepada manusia.

Rahasia ketiga: Giatlah

Katakan sama-sama, giatlah.
Artinya, bergairahlah, bersemangatlah melakukan kehendak Tuhan. Karena Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku.”

Dulu saya ini pendendam, emosional, dan penuh luka. Tetapi setelah mengerti kebenaran, saya belajar bangun, sembuh, dan berharap kepada Tuhan. Dari situ, pelan-pelan saya menjadi bergairah melakukan kehendak Tuhan.

Dulu saya mencari kebahagiaan dari luar—dari pertemanan, pelayanan, pekerjaan—tetapi yang saya dapatkan justru banyak kekecewaan. Kenapa? Karena manusia memiliki keterbatasan untuk memberi kebahagiaan. Tetapi setelah saya mengerti bahwa kebahagiaan adalah anugerah Tuhan, dan saya menjalani tiga hal ini:

  • bangun saat kecewa,
  • berharap kepada Tuhan, dan
  • giat melakukan kehendak Tuhan,

di situlah saya mengalami kebahagiaan sejati.

Yang mengerikan bukanlah sendirian, tetapi merasa kesepian di tengah keramaian. Dulu saya sering merasa seperti itu. Tetapi sekarang, setelah menemukan rahasia kebahagiaan, saya bisa sendirian tanpa merasa kesepian.

Sekarang saya datang ke pertemanan bukan untuk mencari kebahagiaan, tetapi membawa kebahagiaan dari Tuhan. Dalam pelayanan pun bukan mencari kebahagiaan, tetapi berbagi kebahagiaan bersama Tuhan kepada orang-orang yang kita layani.

Tuhan itu baik. Haleluya!

Karena itu, Bapak, Ibu, Saudara, bangunlah kalau sedang mengalami kesakitan.
Harapkan Tuhan dan giat melakukan kehendak Tuhan. Jangan jadi orang Purwakarta. Tahu Purwakarta? Pura-pura ketawa, tapi hati menderita. Nah, itu sering saya temui—di gereja pun ada. Ketemu senyum, ketawa, tapi di dalam hati penuh luka.

Beberapa hari yang lalu Tuhan izinkan saya melayani beberapa keluarga yang berduka. Ada pengerja kami yang papanya meninggal di usia 91 tahun. Ada juga adik dari adik rohani kami, Florencia Lolita Wibisono—pramugari pesawat ATR yang jatuh di daerah Pangkep—meninggal di usia 33 tahun. Saya juga membaca berita tentang cucu seorang konglomerat yang meninggal di usia 17 tahun karena kecelakaan.

Di situ Tuhan mengingatkan saya:
Banyak orang ingin hidupnya bahagia, tetapi tidak mempersiapkan matinya bahagia.
Padahal kematian adalah kepastian. Semua orang pasti mati. Namun tidak semua orang mempersiapkan diri untuk mati dengan bahagia.

Bagi saya, hidup ini sesungguhnya adalah persiapan kematian. Karena setiap kita pasti mati. Dulu saya berpikir yang akan segera mati itu pasti orang-orang yang sudah lanjut usia. Ternyata tidak juga. Ada yang 17 tahun, ada yang 33 tahun. Jadi bukan soal panjang pendeknya usia, bukan soal bagaimana matinya, tetapi bagaimana kita menjalani hidup ini dan bersama siapa kita menjalani hidup ini.

Itu yang penting.
Hidup yang berguna dan mati yang bahagia.
Berguna bagi Kerajaan Allah dan berguna bagi sesama.

Pertanyaannya sekarang: apa yang membuat seseorang bisa hidup bahagia dan mati juga bahagia?
Jawabannya adalah: melakukan kehendak Tuhan.

Sampai hari ini saya masih belajar mengenal dan menemukan kehendak Tuhan. Masih belajar. Tetapi dari perjalanan puluhan tahun, saya yakin ada dua hal yang jelas merupakan kehendak Tuhan dan isi hati Tuhan, yaitu Perintah Agung dan Amanat Agung.
Perintah Agung: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.
Amanat Agung: memberitakan Injil dan memuridkan.

Ketika kita taat dan giat melakukan kehendak Tuhan ini—mengasihi Tuhan, mengasihi sesama, dan menjalankan Amanat Agung—saya percaya Tuhan akan memahkotai hidup kita dengan kebaikan-Nya.

Tidak ada seorang pun yang tahu berapa jatah usianya. Tahun lahir dan tahun kematian kita hanya Tuhan yang tahu. Tetapi janji Tuhan jelas: Tuhan memahkotai tahun-tahun usia kita dengan kasih karunia-Nya. Amin.

Firman Tuhan juga berkata, “Jejak-Mu mengeluarkan lemak.”
Lemak ini punya dua makna. Secara harfiah, itu bagian terbaik dan tersehat dari korban bagi Tuhan. Secara kiasan, ini berbicara tentang kelimpahan, kemakmuran, dan kebaikan Tuhan.

Izinkan saya pakai ilustrasi. Saya minta satu orang maju. (Ilustrasi mengikuti jemaat.)
Bayangkan dia adalah Tuhan Yesus, dan saya memilih untuk berjalan mengikuti Dia dalam ketaatan. Selama saya mengikuti Tuhan—percaya kepada-Nya, berharap kepada-Nya, dan giat melakukan kehendak-Nya—jejak Tuhan menghasilkan kelimpahan, damai sejahtera, sukacita, hikmat, kekuatan, dan pengurapan.

Kalau saya mengikuti Tuhan, apakah saya akan dirasuk setan? Tidak.
Apakah saya mengalami damai sejahtera? Ya.
Sukacita? Ya.
Hikmat? Ya.
Kekuatan dan kuasa? Ya.

Karena itu, Bapak, Ibu, Saudara, giatlah melakukan kehendak Tuhan, karena inilah tugas kita. Roma 14:17 berkata,

Sebab Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.

Ketika kita giat melakukan kehendak Tuhan, Kerajaan Allah memenuhi hidup kita. Ada kebenaran, ada damai sejahtera, dan ada sukacita oleh Roh Kudus. Dan sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita. Amin.

Sekarang saya mau tanya: melakukan kehendak Tuhan itu berat atau tidak?
Yang bilang susah, boleh angkat tangan kanan. Tidak mengurangi keselamatan kok.
Yang bilang gampang, angkat tangan kanan juga.
Yang bingung, jangan angkat kaki ya—khotbahnya belum selesai.

Mari kita lihat Firman Tuhan di 1 Yohanes 5:3,

Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya.

Dan apa kata Firman Tuhan selanjutnya? Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.

Ternyata kuncinya adalah kasih.
Kalau kita utuh dan penuh dengan kasih Allah, melakukan perintah Tuhan itu tidak berat.

Poin terakhir yang ingin saya sampaikan adalah ini:
Tuhan membuat bahagia itu mudah, tetapi dunia membuatnya susah supaya manusia menyerah.
Karena itu, tetaplah terhubung dengan Tuhan, tetap percaya, dan tetap taat kepada-Nya.

Penutup

Ilustrasi khotbah 20260125 Bahagia.jpg

Saya simpulkan:

  1. Bangunlah
  2. Harapkanlah Tuhan
  3. Giatlah

Kalau disingkat: Bahagia!

Kiranya Firman Tuhan ini menolong Bapak, Ibu, Saudara.

Ikan hiu makan tomat
I love you so much and God bless.

Amin.

Video