Khotbah: 20250921-0730/AAL: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Leo (bicara | kontrib)
baru
 
Leo (bicara | kontrib)
 
(Tidak ada perbedaan)

Revisi terkini sejak 22 Januari 2026 13.57

Kita hidup di hari-hari terakhir, di tengah tantangan dan penantian yang sering terasa seperti delay, tetapi Tuhan tetap menyertai umat-Nya di dalam setiap proses. Perumpamaan sepuluh gadis mengingatkan bahwa semua orang percaya memiliki iman, namun kualitas iman ditentukan oleh kesiapan pribadi dan cadangan “minyak” rohani yang terus diisi oleh Roh Kudus. Karena keselamatan dan hubungan dengan Tuhan bersifat pribadi, kita dipanggil untuk terus berjaga-jaga, memelihara roh, dan setia mengerjakan iman sampai Tuhan datang.

Shalom dan selamat pagi. Apa kabar, Saudara? Luar biasa! Karena kita punya Tuhan yang dahsyat. Amin!

Tahun 2025 adalah Tahun Penuaian. Puji Tuhan. Pagi hari ini tema saya adalah the last days, hari-hari yang terakhir. Saya tidak akan bicara tentang rapture, tidak bicara tentang kitab Wahyu. Tetapi saya mau mengupas lebih dalam dari Matius 25, tentang lima gadis yang bijaksana dan lima gadis yang bodoh.

Kita hidup di era yang dahsyat—dahsyat goncangannya, tetapi dahsyat juga berkatnya. Dahsyat tantangannya, tetapi dahsyat juga revival-nya. Amin.

Firman Tuhan dalam {{sabdaweb2v|2 Timotius berkata akan datang masa yang sukar. Tetapi kita percaya, Saudara dan saya berada di dalam Kerajaan yang tidak tergoncangkan'. Amin! When there are great challenges, there will be great revival. Ketika tantangan besar datang, revival yang besar juga akan dinyatakan.

Saya percaya, ketika kita mengalami tantangan yang besar, ada berkat yang besar juga disediakan Tuhan. Ketika kesusahan besar datang, ada pertolongan yang jauh lebih besar lagi. Karena itu, di hari-hari terakhir ini Tuhan mau kita berjaga-jaga dan terus mengerjakan keselamatan kita dalam iman percaya.

Matius 25:1-13,

"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Amin.

50:50

Saudara, di ayat 1 dan 2 kita melihat bahwa Kerajaan Surga digambarkan seperti sepuluh gadis: lima bijaksana dan lima bodoh. Semuanya punya pelita yang sama. Ini gambaran bahwa dalam kehidupan orang percaya, chance-nya bisa fifty-fifty.

Artinya, kalau ada satu juta orang Kristen, bisa saja ada lima ratus ribu yang bijaksana dan lima ratus ribu yang bodoh. Pelita itu melambangkan iman percaya. Kita semua di sini percaya kepada Tuhan Yesus, menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi kualitas iman itu bisa berbeda-beda.

Alkitab mengingatkan bahwa chance-nya bisa fifty-fifty. Sama seperti diskon 50%—itu besar, Saudara. Kalau ada diskon 50%, kita pasti langsung kasih tahu orang lain. Tetapi firman Tuhan berkata, jangan sampai kita termasuk lima gadis yang bodoh. Saya berdoa, semua di tempat ini adalah lima gadis yang bijaksana. Amin.

Pelita yang sama tidak menjamin kualitas yang sama. Lama menjadi Kristen juga tidak menjamin kualitas kekristenan seseorang. Jangan sampai yang terdahulu menjadi terbelakang, dan yang terbelakang menjadi terdahulu.

Kita bisa saja sudah Kristen 20, 30, bahkan 40 tahun. Tetapi seperti sepuluh gadis tadi, semuanya punya pelita, namun kualitasnya berbeda. Ada orang percaya Tuhan, tetapi dosa masih terus berjalan. Mengaku Kristen, tetapi perkataan dan hidup tidak mencerminkan Kristus.

Karena itu, firman Tuhan pagi hari ini mengingatkan: chance-nya bisa fifty-fifty. Jangan sampai kita menjadi lima gadis yang bodoh, tetapi mari kita semua menjadi lima gadis yang bijaksana.

Hal kedua kita lihat di ayat 5. Mempelai itu lama tidak datang-datang. Kesepuluh gadis itu—baik yang bijaksana maupun yang bodoh—mengalami hal yang sama: menunggu.

Menunggu itu tidak enak, Saudara. Menunggu orang yang terlambat bikin bete. Menunggu jawaban doa juga tidak enak. Menunggu janji Tuhan terasa berat. Kita bertanya-tanya, “Kapan, Tuhan? Kapan pintu itu dibuka?”

Keterlambatan ini bisa kita sebut sebagai delay. Sepuluh gadis itu mengalami delay. Dalam hidup kita, delay bisa berupa pergumulan: sakit penyakit, masalah ekonomi, masalah keluarga, relasi yang belum pulih.

Kalau pesawat delay, biasanya ada masalah yang harus dibereskan. Demikian juga dalam hidup. Ketika sesuatu tidak datang-datang, itu berarti ada proses yang Tuhan izinkan terjadi.

Sepuluh gadis itu mengalami delay yang sama. Tetapi yang membedakan mereka bukan lamanya menunggu, melainkan kesiapan mereka selama menunggu.

Saudara, sebagai orang percaya, kita semua sama-sama punya pelita iman percaya. Saya percaya setiap kita juga punya delay masing-masing. Kita punya pergumulan masing-masing. Betul apa betul, Saudara? Kita punya goncangan pribadi lepas pribadi.

Waktu pertama kali Tuhan mengundang kita masuk ke dalam Kerajaan Allah—menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat—Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa badai. Tetapi Mazmur 23 berkata, Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.

Jadi ketika kita sedang mengalami delay, masa penantian yang terasa panjang, jawaban Tuhan belum datang-datang, kita perlu ingat satu hal: Tuhan beserta dengan kita. Ada Yesus yang tetap menyertai kita. Amin.

Kehidupan iman percaya kita seperti pelita tadi—harus menyala, harus terus di-charge, dan minyaknya harus selalu ada. Kekristenan bukan sekadar status, tetapi proses perjalanan pribadi kita bersama Tuhan Yesus.

If you have minimum oil, you won't pass the delay!

Intinya ada di ayat 8. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana, “Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.”

There will be delays. If you have minimum oil, you won’t pass the delay. Akan ada goncangan, akan ada delay. Kalau kita tidak punya cadangan minyak yang cukup, kita tidak akan bisa melewati delay itu.

Sepuluh gadis tadi—lima yang bijaksana membawa minyak cadangan, lima yang bodoh tidak. Saudara, siapa di sini yang bawa power bank? Power bank gunanya apa? Supaya ketika handphone kita hampir mati, kita punya cadangan baterai dan tetap bisa terkoneksi.

Demikian juga dengan kehidupan rohani. Pastikan kita punya cadangan minyak yang cukup. Amin. Supaya pelita iman percaya kita tetap menyala dan kita sanggup menjalani proses kehidupan.

Minyak itu melambangkan Roh Kudus—kebenaran dan kehidupan rohani kita. Hanya Roh Kudus yang bisa mengisi minyak dalam hidup kita. Bagaimana caranya?

Ketika Saudara datang beribadah, Saudara sedang mengisi cadangan minyak. Amin! Lewat doa, pujian, dan penyembahan. Meskipun lagi susah, lagi bergumul, lagi galau, Saudara tetap datang ke hadirat Tuhan. Saudara memilih mengisi pelita dengan minyak Roh Kudus.

Ada kekuatan yang baru, ada sukacita yang baru, ada pertolongan yang ilahi dan supranatural. Ketika kita mendengar firman Tuhan, kita sedang mengisi minyak kita.

Masalah mungkin masih ada. Pergumulan masih ada. Tetapi kita tetap isi pelita kita. Saudara tetap baca Alkitab saat teduh. Amin. Setiap hari. Itu sedang mengisi cadangan minyak.

Saudara ikut komsel, Saudara dikuatkan, Saudara menguatkan orang lain—itu semua mengisi pelita kita. Supaya cadangan minyak kita banyak. Sehingga ketika ada masalah, ketika ada orang yang menyakiti kita, kita masih punya cadangan kasih, cadangan pengampunan, dan masih bisa memberi di tengah kekurangan.

Kenapa? Karena Roh Kudus sendiri yang mengisi minyak itu. Kita dibaptis Roh Kudus sekali, tetapi kepenuhan Roh Kudus itu berkali-kali. Setiap kali kita datang ke hadirat Tuhan, kita berkata, “Tuhan, penuhi aku lagi dengan Roh Kudus-Mu.” Kita sedang nge-charge rohani kita supaya kita bisa melewati delay yang sedang kita alami.

Hubungan pribadi dengan Tuhan tidak bisa diwakilkan

Bagian berikutnya, ayat 9. Gadis-gadis bijaksana berkata, “Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.”

Kalau dibaca sekilas, kelihatannya seperti pelit. Tetapi Saudara, kehidupan Kekristenan adalah urusan pribadi kita dengan Yesus. Saya tidak bisa nebeng iman keselamatan orang lain—bahkan kepada orang tua, gembala, atau keluarga yang lebih rohani.

Filipi 2:12 berkata,

Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.

Dalam bahasa Inggris dikatakan,

Work out your own salvation.

Itu milik kita masing-masing. Hubungan pribadi kita dengan Tuhan tidak bisa diwakilkan. Waktu-waktu pribadi dengan Tuhan, mezbah doa pribadi, ketaatan pada firman—itu urusan kita masing-masing.

Gereja memang memuridkan, mengajar, membangun jemaat. Tetapi bagaimana respons kita? Itu kembali kepada keputusan pribadi kita dengan Tuhan. Karena itu, hari ini mari kita lebih sungguh-sungguh lagi. Kalau dulu punya jam doa lalu sibuk dan mulai longgar, mari kita bangun lagi mezbah doa pribadi kita.

Berjaga-jagalah!

Bagian terakhir, ayat 13. Tuhan berkata, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

Ini menarik, Saudara. Dua ribu tahun yang lalu Yesus sudah mengingatkan: berjaga-jagalah. Artinya pesan ini relevan untuk setiap generasi, termasuk kita hari ini.

1 Tesalonika 5:23 mengingatkan agar roh, jiwa, dan tubuh kita terpelihara sempurna. Bukan hanya tubuh dan jiwa, tetapi terutama roh kita—karena sifatnya kekal.

Jangan sampai kita kehabisan minyak. Jangan sampai pelita kehidupan kita kehilangan sinarnya. Tetapi di hari-hari terakhir ini, mari kita tetap berjaga-jaga. Tetap lakukan kebenaran firman Tuhan, meskipun tidak mudah. Saya percaya, Tuhan pasti menolong dan memberkati setiap kita.

Amin.