Article:202600604/IN

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Setiap proses hidup yang Tuhan izinkan bukanlah kebetulan, melainkan sarana untuk membentuk kedewasaan rohani kita. Melalui masalah dan ujian, Tuhan mengajar kita untuk tetap bersyukur, setia, dan semakin serupa dengan Kristus. Ketika kita merespons proses dengan benar, hidup kita akan dimurnikan seperti emas.

Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

Ayub 23:10

Setiap peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam hidup kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, bukanlah kebetulan. Kita percaya bahwa Tuhan tetap berperan dalam setiap situasi yang kita hadapi. Ada maksud Tuhan di balik setiap keadaan, dan melalui semuanya itu kita belajar bagaimana merespons dengan benar. Firman Tuhan mengajarkan bahwa setiap proses dapat dipakai Tuhan untuk membentuk kedewasaan rohani kita.

  1. Belajar merespons dengan ucapan syukur
  2. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

    2 Petrus 3:9

    Tuhan tidak pernah terlambat menepati janji-Nya. Walaupun kadang manusia menganggap seolah-olah Tuhan terlambat, kita percaya bahwa waktu Tuhan selalu tepat. Tuhan rindu agar setiap orang berbalik dan bertobat, dan sebagai anak-anak-Nya, kita juga dipanggil untuk bertumbuh menjadi dewasa secara rohani. Kedewasaan rohani terlihat dari bagaimana kita merespons masalah, persoalan, dan pergumulan. Apakah kita merespons dengan ucapan syukur, atau justru dengan sungut-sungut? Ketika kita belajar mengucap syukur dalam segala keadaan, kita sedang berjalan dalam proses kedewasaan rohani.

    Intinya, kita perlu terus belajar untuk lebih banyak mengucap syukur.
  3. Belajar setia ketika diuji
  4. Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

    Ayub 1:20–22

    Kesetiaan kita terlihat ketika kita mengalami hal-hal yang tidak enak. Kita belajar dari Ayub, yang tetap menyembah Tuhan sekalipun mengalami kehilangan dan penderitaan yang sangat berat. Ketika hidup diberkati, mungkin lebih mudah bagi kita untuk bersyukur. Namun saat kita diperhadapkan pada masa-masa sulit, di situlah terlihat apakah kita tetap setia mengiring Tuhan atau tidak.

    Kesetiaan sejati diuji bukan hanya pada saat keadaan baik, tetapi justru ketika kita sedang menghadapi masalah yang berat.
  5. Belajar memiliki karakter seperti Kristus
  6. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

    1 Yohanes 2:6

    Siapa diri kita yang sesungguhnya akan terlihat ketika badai dan tekanan datang menimpa hidup kita. Ketika Tuhan Yesus diperhadapkan pada situasi yang sangat berat, bahkan penderitaan di kayu salib, Ia tetap menunjukkan karakter kasih, pengampunan, dan ketaatan kepada Bapa. Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

    Lukas 23:34

Dari teladan Tuhan Yesus, kita belajar bahwa Tuhan rindu membentuk karakter kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Melalui proses, ujian, dan tekanan, Tuhan sedang mendewasakan kita secara rohani.

Karena itu, marilah kita belajar merespons setiap keadaan dengan ucapan syukur, tetap setia dalam ujian, dan terus memberi diri untuk dibentuk menjadi pribadi yang memiliki karakter seperti Yesus.

Amin.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkanketekunan.

Yakobus 1:2–3