Profetik

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 9 Oktober 2024 09.28 oleh Leo (bicara | kontrib)
Lompat ke: navigasi, cari

Pelayanan profetik merupakan wadah pelayanan para pendoa dan imam pujian dan penyembahan. Doa, pujian, dan penyembahan merupakan satu kekuatan yang tidak terpisahkan bagi orang percaya. Pelayanan ini berawal dari visi Gembala Pembina tentang Cawan dan Kecapi dalam Wahyu 5:8,

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

Secara khusus, seorang pendoa juga haruslah seorang pemuji penyembah, begitu juga seorang imam pujian penyembahan haruslah seorang pendoa. Apabila ini benar dilakukan, maka akan bangkit pendoa dan imam pemuji penyembah yang tangguh dan terobosan-terobosan akan terjadi, sehingga menjadi berkat untuk keluarga, lingkungan, kota, bangsa, bahkan bangsa-bangsa (Wahyu 5:8).

Renungan profetik

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

— 2 Timotius 1:7

Intimidasi adalah salah satu cara yang dapat membuat seseorang kehilangan keberanian, meragukan dirinya sendiri, atau bahkan mundur dari panggilan Tuhan. Intimidasi tidak selalu datang melalui orang lain. Terkadang intimidasi muncul melalui pikiran kita sendiri. Rasa takut gagal, takut ditolak, takut menghadapi masa depan, takut terhadap masalah, atau merasa diri tidak cukup baik untuk dipakai Tuhan.

Dalam kehidupan rohani, kita perlu menyadari bahwa ketakutan yang terus dibiarkan dapat menghalangi kita untuk melangkah dalam iman. Kita mungkin tahu apa yang Tuhan firmankan, tetapi ketika intimidasi datang, kita lebih percaya kepada besarnya masalah daripada kepada kebesaran Tuhan. Karena itu, kita perlu belajar bagaimana mematahkan intimidasi berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.

Intimidasi sering membuat kita melihat diri berdasarkan kelemahan, pengalaman buruk, atau perkataan negatif orang lain. Kita mulai berkata, "Saya tidak mampu," "Saya tidak layak," atau "Saya pasti gagal." Padahal, identitas kita tidak ditentukan oleh perkataan manusia, melainkan oleh siapa kita di dalam Kristus.

Ketika Daud menghadapi Goliat, ia berhadapan dengan seorang prajurit yang jauh lebih besar dan berpengalaman. Goliat memiliki kekuatan fisik dan perlengkapan perang yang mengintimidasi. Secara manusia, Daud tampak tidak sebanding dengannya. Namun, Ia percaya kepada Tuhan yang menyertainya. Jangan biarkan intimidasi mendefinisikan siapa diri kita. Ketika ketakutan berkata bahwa kita tidak mampu, ingatlah bahwa Tuhan sanggup memperlengkapi kita untuk melakukan kehendak-Nya. Keberanian bukan berarti kita tidak memiliki kelemahan, tetapi kita tetap percaya kepada Tuhan di tengah kelemahan kita.

2 Korintus 10:4-5 mengatakan karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

Intimidasi sering kali dimulai dari sebuah pikiran yang terus diulang. Kita membayangkan kegagalan sebelum mencoba. Karena itu, kita harus belajar memeriksa pikiran kita berdasarkan Firman Tuhan. Apakah pikiran tersebut sesuai dengan kebenaran, atau hanya dibangun dari ketakutan dan asumsi? Kita dapat membawa pikiran yang mengintimidasi itu kepada Tuhan dan menggantinya dengan kebenaran-Nya.

Ketika intimidasi datang, kembalilah kepada hadirat Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, dan perenungan Firman. Jangan hanya mencari keberanian dari dukungan manusia. Belajarlah menguatkan hati di dalam hadirat Tuhan. Amin

Intimidasi adalah salah satu cara yang dapat membuat seseorang kehilangan keberanian, meragukan dirinya sendiri, atau bahkan mundur dari panggilan Tuhan. Intimidasi tidak selalu datang melalui orang lain. Terkadang intimidasi muncul melalui pikiran kita sendiri.

Lihat pula