Jalan menuju kemuliaan Allah

Dari GBI Danau Bogor Raya

Langsung ke: navigasi, cari
Jalan menuju kemuliaan Allah
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal24 April 2011
Sebelumnya
Selanjutnya

Kolose 2:1-7; II Raja-raja 19:13; Yesaya 37:31

Visi mula-mula Allah (the Origin Vision) bagi Adam dan Hawa yang diberikan Allah kepada Adam sebagai pemimpin pertama (the First Leader) di taman Eden adalah agar Adam dan keluarganya hidup dalam kemuliaan Allah. Bahkan tidak harus berjerih lelah bekerja membanting tulang untuk mendapatkan rejeki jasmani dan tidak harus berjuang mempertahankan iman.

Manusia juga tidak harus bersusah payah berjuang melawan dosa, berjuang dalam iman untuk menuju kemuliaan Allah. Rancangan awalnya adalah manusia hidup dalam kemuliaan Allah. Dan Allah Bapa tidak harus mengorbankan Putera-Nya sebagai jalan pendamaian menuju kemuliaan Allah.

Namun, kejatuhan Adam dan Hawa mengubah ketetapan Allah. Jalan langsung menuju tahta kemuliaan berubah menjadi tidak langsung. Putera Allah harus dikorbankan.

Kejatuhan – tanda perubahan arah

Kejatuhan Adam dan Hawa sebagai tanda dimulainya babak baru dalam hidup manusia, yakni berjuang memperoleh rejeki dan berjuang mempertahankan iman. Sehingga tepatlah sebuah ungkapan yang berkata "hidup adalah perjuangan". Manusia kini harus berjuang memperoleh rezekinya (secara jasmaniah), seperti yang dikatakan Firman Tuhan dalam Kejadian 3:16-19, "Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Manusia juga harus berjuang bertumbuh dalam iman bila tidak ingin kehilangan kemuliaan Allah, tepat seperti yang dikatakan Yudas dalam Yudas 1:3, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."

Dasar dari perjuangan tersebut adalah pada Kristus yang tersalib. Salib memungkinkan terjadi perubahan hidup, baik masa kini dan masa yang akan datang. Karena itu Rasul Paulus dalam salah satu suratnya berkata: "Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." (Kolose 2:6b-7)

Inilah yang akan menjadi renungan bagi kita sebagai jalan menuju kemuliaan Allah. Jikalau kita ingin menikmati kemuliaan Allah kelak, maka mulai sekarang kita harus mengambil komitmen untuk tetap di dalam Kristus, berakar di dalam Kristus, membangun diri di atas Kristus dan tetap di dalam keadaan hati yang melimpah dengan ucapan syukur. Syukur berarti tanda mengiyakan kehendak Bapa dan ’meniadakan’ yang bukan kehendak Bapa. Syukur berarti "mampu menerima diri dan apa yang dimiliki". Sebelum kita mampu menerima diri sendiri dan apa yang kita miliki, kemungkinan besar kita hanya akan menjadi orang yang suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain sehingga kita jatuh pada golongan orang yang "tidak bersyukur".

Jalan menuju kemuliaan Allah

Dengan demikian, jalan menuju kemuliaan Allah adalah:

1. Masuk dan bersatu dengan Kristus (ayat 6b)

Dalam Terjemahan Baru (LAI), dikatakan: "hendaklah kamu tetap di dalam Dia". Frasa ini berarti masuk dan bersatu dengan Kristus, dalam bahasa Jawa disebut manunggaling kawula Gusti. Menyatunya manusia dengan Allah, bukan berarti manusia berubah eksistensinya menjadi malaikat. Tentu tidak. Manusia tetap manusia, yang berubah adalah esensi hidup atau bahasa yang lazim disebut cara hidup. Bukan lagi hidup menurut apa yang aku mau melainkan menurut apa yang Dia mau. Kata Rasul Paulus "hidup-ku ini bukannya aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku".

2. Berakar di dalam Kristus (7a)

Di frasa ini, Paulus mengubah analoginya (perbandingannya) dari masuk dan bersatu dengan Kristus menjadi bertumbuh seperti pohon. Paulus ingin mengatakan kepada jemaat di Kolose dan juga kepada kita, bahwa hidupmu di dalam Kristus "haruslah seperti benih yang disemai di dalam tanah, bertumbuh menjadi pohon yang besar dan menghasilkan buah".

Sangat logis, bila Paulus menganalogikan kehidupan orang percaya seperti "pohon". Sebab sebuah pohon hanya dapat bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah pada musimnya "jika akar-akarnya dapat merambat ke segala arah mencari air dan makanan".

Dari analogi ini, Paulus ingin berkata kepada kita bahwa "bila kita ingin menemukan segala yang baik di dalam Tuhan, maka kita harus seperti akar pohon yang merambat di dalam Kristus sehingga menemukan sumber hayat".

Sebuah pohon hanya eksis bila akar-akarnya terus merambat. Bayangkan bila akar-akar pohon dari "pohon jeruk", malas merambat, mencari air dan makanan. Tunggulah, sehari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya, pohon jeruk tersebut bukan bertambah subur dan hijau daunnya, bahkan menghasilkan buah-buah jeruk yang manis rasanya, pada musimnya; melainkan sebaliknya yang terjadi.

Demikian juga dengan kehidupan iman orang percaya. Tentu tidak akan mengalami hidup yang beruntung, berhasil, diselamatkan, bahkan menikmati kemuliaan yang disediakan Bapa di sorga.

3. Dibangun di atas Dia (7b)

Di frasa ini, Paulus tetap pada pokok pikirannya, namun menggunakan analogi yang berbeda. Paulus mengumpamakan hidup orang percaya, tidak hanya seperti sebuah pohon tetapi juga seperti sebuah bangunan di mana sebuah bangunan hanya kokoh berdiri jika dibangun di atas fondasi yang kuat. Demikian juga dengan kehidupan orang percaya. Kristus harus menjadi fondasi hidup dan fondasi iman atau Kristus menjadi batu penjuru (batu pengikat). Petrus berkata bahwa kita adalah batu-batu hidup yang tersusun di atas Kristus di mana Kristus sebagai batu penjurunya.

Sebelumnya, dalam Matius 7:26-27, Tuhan Yesus telah mengatakan hal yang sama; "apabila engkau hendak membangun rumah, janganlah membangun di atas pasir sebab bila datang badai maka hancurlah rumah itu".

Perumpamaan ini memiliki makna bila kita membangun hidup di luar Kristus, itu sama dengan membangun dalam kesia-siaan. Menurut Amsal, orang demikian tidak berhikmat alias orang bodoh.

Kesimpulan

Bila dengan baik-baik kita mendengarkan perkataan Firman Tuhan dan dengan lembut hati melakukannya, maka kita;

  1. Akan bertambah teguh dalam Kristus
  2. Menikmati kemuliaan Allah
  3. Menghasilkan buah; buah-buah roh akan dihasilkan.
  4. Tidak takut dengan datangnya panas terik dan badai
  5. Akan selalu ada ucapan syukur, dan
  6. Berhenti membandingkan hidup dengan orang yang sukses di luar Kristus (Yesaya 40:24; Matius 13:6,21; Markus 4:6,17; Lukas 8:13).

Kini, jalan menuju tahta kemuliaan Kristus haruslah diperjuangkan di mana Kristus menjadi dasar, jalan dan tujuan dari perjuangan tersebut. Sebab akar-akar iman yang mengakar dalam Kristus; kehidupan iman yang dibangun kokoh di atas Kristus akan membawa kepada kemuliaan Kristus.

Sumber

  • (NIB) (24 April 2011). "Renungan Khusus". Warta Jemaat. GBI Jalan Gatot Subroto. Diakses pada 05 April 2011.