Mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan (Khotbah Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo)

Dari GBI Danau Bogor Raya

Langsung ke: navigasi, cari
Mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan
Niko Njotorahardjo 091004.jpg

Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo

Ringkasan Khotbah
KebaktianIbadah Raya
TanggalMinggu, 4 Oktober 2009
GerejaGBI Jalan Gatot Subroto
TempatJCC Senayan
KotaJakarta

Saya baru kembali dari Tanah Perjanjian, juga dari Amerika. Di Tanah Perjanjian adalah pelayanan ke-10 kalinya dalam convocation tahunan Jerusalem House of Prayer for All Nations dan di Amerika melayani hamba-hamba Tuhan di lingkungan Church of God.

Pelayanan di Amerika

Di Amerika, saya melayani sebagai salah satu pembicara dalam sebuah simposium tentang Amanat Agung yang diselenggarakan oleh Church of God, di mana Tuhan melawat hamba-hamba Tuhan yang hadir di sana dengan luar biasa.

Pada kesempatan itu saya menyampaikan pesan Tuhan kepada mereka: "Saudara-saudara, tanpa kasih mula-mula maka Amanat Agung hanya slogan. Amanat Agung Tuhan Yesus harus didasarkan pada kasih yang mula-mula." Orang yang dipenuhi dengan kasih mula-mula - tanpa perlu disuruh atau diajar macam-macam - mereka akan bergerak untuk menginjil supaya orang lain juga diselamatkan seperti dia juga telah diselamatkan.

Pelayanan di Tanah Perjanjian

Dari Amerika kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Tanah Perjanjian, saya berbicara di hadapan 200 bangsa-bangsa yang menghadiri convocation tahunan di Yerusalem. Kali ini Tuhan makin meneguhkan apa yang telah Dia katakan sejak awal tahun: "Aku datang segera!"

Dan di dalam kunjungan ke Tanah Perjanjian kali ini saya mengunjungi beberapa tempat, dan mengalami 3 pengurapan dari Tuhan Yesus di 3 tempat, dan saya percaya bahwa pengurapan itu juga bagi Saudara semua.

Bukit Zaitun

Hari pertama pada waktu di sana saya tahu bahwa peneguhan itu terjadi, kita dibawa naik ke puncak Bukit Zaitun, salah satu tempat Tuhan Yesus naik ke sorga. Pada waktu itu kita berbicara tentang hal itu.

Pada waktu Tuhan Yesus naik ke sorga disaksikan oleh murid-murid-Nya, ketika Tuhan Yesus hilang dari pandangan mata mereka terus menatap ke langit. Tiba-tiba ada 2 orang berpakaian putih yaitu malaikat Tuhan berkata kepada mereka:

"Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (Kisah para Rasul 1:11)

Dari ayat ini saya menemukan 2 hal:

  • Kalau yang melihat Tuhan Yesus naik ke sorga adalah murid-murid-Nya, maka yang melihat Dia turun dari sorga adalah juga murid-murid-Nya.
  • Banyak yang percaya: tempat di mana Tuhan Yesus naik ke sorga, di situ juga Tuhan Yesus akan turun dari sorga.

Saya tidak tahu di mana persisnya tempat itu, tetapi dipercaya bahwa Tuhan Yesus akan masuk ke Yerusalem melalui Pintu Gerbang sebelah Timur - yang disebut Golden Gate. Semua orang percaya akan hal itu: orang Islam, orang Yahudi, dan orang Kristen sendiri.

Bukti yang nyata dari kepercayaan itu adalah di depan Golden Gate ada kuburan-kuburan.

  • Yang paling dekat dengan Golden Gate adalah kuburan orang Islam. Dari Alkitab Perjanjian Lama mereka mengetahui bahwa haram bagi seorang imam jika menyentuh mayat. Jadi mereka membuat kuburan di situ dengan harapan Tuhan Yesus tidak masuk ke Yerusalem melalui pintu itu karena haram/banyak kuburan.
  • Tidak jauh dari situ ada kuburan orang Yahudi. Rabi-rabi yang ada di luar Yerusalem dengan biaya yang mahal mau dikubur di situ karena mereka percaya kalau Tuhan Yesus datang menjejakkan kaki-Nya di situ maka akan terjadi kebangkitan orang mati dan mereka percaya akan dibangkitkan.
  • Tidak jauh dari situ juga ada kuburan orang Kristen dan mereka percaya juga akan dibangkitkan.

Di tempat Tuhan Yesus naik ke sorga maka di situ Dia akan turun dari sorga, dan Tuhan berkata: "Tidak lama lagi, Aku datang segera!"

Garden Tomb

Dari Bukit Zaitun, sore harinya kami pergi ke Garden Tomb di mana dipercaya Tuhan Yesus dikuburkan di sana. Biasanya dalam tour ke Tanah Perjanjian; tempat itu adalah yang terakhir dikunjungi dan diadakan Perjamuan Kudus di tempat itu. Tetapi kali ini kami ke sana pada hari pertama dan saya berbicara tentang kasih Kristus yang luar biasa: "Saudara dan saya ada di tempat ini karena kasih Kristus yang luar biasa." Kita merenungkan bersama-sama dan makan Perjamuan Kudus, kemudian saya mendoakan keluarga demi keluarga. Setelah itu saya duduk dan tiba-tiba Tuhan mengurapi saya dengan Pengurapan Kasih. Saya yang selama ini sudah merasakan kasih Kristus ditambah lagi dengan kasih-Nya. Inilah pengurapan yang pertama.

Dan hal ini luar biasanya; diteguhkan oleh seorang nabi berkebangsaan Yahudi pada waktu saya di arena Convocation. Nabi itu melihat penglihatan tentang saya yang dipenuhi dengan kasih Kristus yang luar biasa. Dan kasih itu bukan hanya untuk saya tetapi juga buat Saudara. Di dalam menunggu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya saya berdoa Saudara semua selalu berada di dalam kondisi dipenuhi oleh kasih yang mula-mula.

Saya ingat pesan Tuhan kepada jemaat di Efesus: apapun yang mereka kerjakan dengan rajin, tekun, sabar, mau menderita karena nama Yesus, tetapi kalau tidak berdasarkan kasih yang mula-mula, akan dikatakan oleh Tuhan Yesus: "... betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, ..." (Wahyu 2:5).

Hari-hari ini saya merasakan kasih itu sedang dilepaskan Tuhan di tempat ini. Kalau Saudara rindu dipenuhi kasih Kristus, maka Saudara akan dipenuhi kasih itu berlimpah-limpah.

The Upper Room

The Upper Room (kamar loteng) adalah tempat di mana 2.000 tahun yang lalu untuk pertama kalinya Roh Kudus dicurahkan kepada 120 murid. Mereka dipenuhi dengan Roh Kudus dan berbahasa roh, dan mereka langsung menginjil kemana-mana.

Di tempat itulah Tuhan memberikan pengurapan yang kedua kepada saya: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8).

Tuhan berkata kepada saya: "Sekarang Aku on-kan apa yang selama ini Aku suruh engkau memperkatakannya." Sejak bulan Juni yang lalu saya disuruh oleh Tuhan untuk mengatakan: "Aku akan mencurahkan Roh-Ku." Kemudian saya menyitir dari Yoel 2:28-32 :

  • "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, ... Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu." (ayat 28-29).
  • "Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah ..." (ayat 30-31).

Ini adalah mujizat yang menakutkan. Sejak bulan Juni, setiap bulan saya tidak pernah lupa memperkatakan ini karena Tuhan yang menyuruh. Kemudian terjadilah hal-hal yang mengejutkan kita semua.

Terorisme muncul kembali, diikuti dengan rentetan bencana alam. Ini luar biasa; dalam waktu yang bersamaan terjadi gempa di Padang, Laos, Kamboja, Vietnam, Samoa, serta badai di Filipina. Saya tahu di Filipina Tuhan sedang beracara di sana; topan pertama saja sudah memporak-porandakan, tiba-tiba datang topan yang kedua, sekarang datang topan yang ketiga, yang terjadi seperti tidak masuk akal.

Terus-terang gempa di Padang membuat hati saya gundah, ketika menerima telpon dari gembala kita yang ada disana: "Pak, seluruh kota hancur."

Hati saya gundah melihat semua itu, tetapi ini Tuhan yang berbicara. Tuhan tidak akan melakukan sesuatu tanpa terlebih dulu Dia memberitahukan kepada nabi-nabi-Nya untuk diperkatakan. Karena itu selalu saya katakan: "Perhatikan apa yang Roh Kudus katakan pada hari-hari ini, jangan diabaikan." Kadang seperti hal yang tidak masuk akal, atau membosankan karena diulang-ulang lagi, tetapi berhati-hatilah, sebab ini akhir zaman. Tuhan menyuruh nabi-nabi-Nya untuk memperkatakan, apa yang akan terjadi. Kadang-kadang nabi-nabi-Nya itu sendiri tidak mengerti akan makna perkataan itu. Saya juga kadang-kadang tidak mengerti, tetapi saya perkatakan saja.

  • "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas." (ayat 32)

Ayat 32 adalah akibat dari tanda-tanda yang pertama dan kedua tadi. Tuhan berkata: "Akan banyak orang yang berseru kepada nama Tuhan, dan mereka yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan."

"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku [Yesus Kristus Tuhan], yang kupercayai." (Mazmur 91:1-2)

Di upper room itu juga:

  • Pak Kim Seng mendapatkan suatu penglihatan: saya diberikan sebuah shoffar oleh Tuhan, yang artinya saya harus memberitakan pesan Tuhan.
  • Ibu Briggita mendapatkan ayat Wahyu 21:21 berbicara tentang 12 pintu gerbang di Yerusalem Baru, itu berbicara tentang bangsa-bangsa.

Kesimpulannya; saya harus memberitahu pesan Tuhan dalam Yoel 2:28-32 kepada bangsa-bangsa. Dan hal itu telah saya lakukan ketika sedang berada di Amerika. Disana saya katakan:( "Saudara, ber hati-hati lah; sekarang Roh Kudus sedang dicurahkan. Akan ada 3 tanda (Yoel 2:28-32) yang akan terjadi, dan itu bukan hanya melanda Indonesia." Kita lihat sekarang, apa yang sepertinya 'tidak masuk akal' ini akan terjadi di seluruh dunia. Dan Tuhan berkata: "Aku datang segera."

Kalau kita mendengar berita ini memang kita kadang-kadang takut, tetapi jangan takut; sebab Tuhan berkata: "Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi [meluputkan] engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia..." (Wahyu 3:10).

Galilea

Di sekitar danau Galilea banyak terjadi mujizat-mujizat Tuhan Yesus yang dituliskan di Alkitab. Pada waktu naik perahu di tengah-tengah danau Galilea, kami memuji-muji Tuhan dan berdoa. Setelah selesai, dan perahunya akan merapat, biasanya awak dari kapal itu menjual gambar Miracles of Jesus in Galilea. Setiap kali saya mesti beli gambar tersebut untuk mengingat kembali apa yang Tuhan Yesus pernah lakukan. Ketika saya membelinya, saya pegang, begitu saya baca tulisan "Miracles of Jesus in Galilea" tiba-tiba saya melihat ada sesuatu yang putih datang kepada saya. Saya menangis tidak tahan. Sepertinya ada suatu tangan yang ditumpangkan ke atas kepala saya, dan saya mendengar suara: "Kamu akan melakukan mujizat-mujizat seperti yang pernah Aku lakukan." Inilah pengurapan yang ketiga.

Setelah itu saya melihat mujizat-mujizat apa yang pernah Tuhan Yesus lakukan di situ, dan yang paling menyolok di situ adalah gambar tentang peristiwa Petrus memperoleh 153 ekor ikan, ini berbicara tentang berkat Tuhan. Tuhan akan memberkati Saudara. Saudara yang mengerti maka engkau akan mendapatkan 153 ekor ikan. (Yohanes 21:11).

Saya selalu bertanya kepada Tuhan: "Tuhan, dalam tahun berikutnya ini apakah Tuhan masih menyuruh saya melanjutkan pelayanan Healing?" Saya sudah disuruh keliling oleh Tuhan, melakukan pelayanan Healing, sudah 121 tempat. Saya melihat ribuan orang yang disembuhkan seketika oleh Tuhan.

Kita tidak bisa gegabah jika menyangkut pelayanan Healing. Kalau tidak benar-benar disuruh Tuhan, jangan coba-coba lakukan.

  • Kalau dalam pelayanan khotbah, kadang-kadang meskipun tidak disuruh, mungkin urapannya sudah mulai hilang, orang masih bisa menutupi dengan humor dan sebagainya.
  • Dalam pelayanan pujian memuji Tuhan, sekalipun pengurapannya kira-kira sudah hilang, menyanyi saja dengan sebaik-baiknya.

Tetapi dalam pelayanan Healing, kalau sudah tidak dipakai oleh Tuhan; apa yang bisa kita lakukan? Sebab orang sembuh seketika karena Tuhan, bukan karena kita. Kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Karena itu saya selalu bertanyakan hal ini kepada Tuhan, dan saya tahu Tuhan masih menyuruh untuk melakukan ini. Di depan ini ada penuaian jiwa besar-besaran, Saudara akan menyaksikan penuaian jiwa melalui 2 tanda dari Yoel 2 tadi, dan akibatnya akan banyak orang yang berseru kepada nama Tuhan dan mereka yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

Apa yang harus kita lakukan?

  1. Doa, Pujian, dan Penyembahan
  2. Gereja Harus Menjadi Dewasa
  3. Lolos dalam penyaringan
  4. Hidup di hadapan Tuhan

Doa, Pujian, dan Penyembahan

Pada waktu saya di Yerusalem, Tuhan kembali berbicara dengan begitu kuat; "Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!" Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" (Mazmur 24:7-10).

Tema dari Jerusalem House of Prayer for All Nations tahun ini - seperti tahun-tahun yang lalu - adalah: "Prepare The Way for The King of Glory" (Persiapkan jalan bagi Sang Raja Kemuliaan).

  • Siapa Raja Kemuliaan itu? Yesus, Dialah Raja Kemuliaan.
  • Siapa yang dimaksudkan pintu-pintu gerbang? Kita semua, bangsa-bangsa.

Dalam Ulangan 30:8 Tuhan membagi dunia ini seperti bilangan anak-anak Yakub yaitu 12. Jerusalem House of Prayer for All Nations mendapatkan satu pengertian dari Tuhan:

  • Yerusalem Kuno mempunyai 12 pintu,
  • di masa depan Yerusalem Baru juga mempunyai 12 pintu.

Kalau pintu Yerusalem Kuno diproyeksikan ke peta dunia, maka Indonesia termasuk Golden GateBethany Gate. Justru nanti Tuhan Yesus masuk melalui Golden Gate . Ini bukan kebetulan. Kalau kita melihat hari-hari ini, pernyataan "Indonesia bagi bangsa-bangsa" itu benar. Saya melihat sendiri bagaimana Tuhan bergerak dengan luar biasa, sehingga pada waktu saya di Amerika, mereka berkata: "Pelayanan seperti yang Anda punyai, ini yang diperlukan oleh Amerika."

Pintu-pintu gerbang adalah kita semua, "Angkatlah kepalamu, ... dan terangkatlah kamu," maknanya adalah "doa, pujian dan penyembahan pintu-pintu gerbang bersama-sama dalam unity terus-menerus siang dan malam". Itulah Pondok Daud. Ini berbicara tentang keintiman yang terus-menerus. Kalau Saudara intim, berarti Saudara ada di dalam hadirat-Nya, Saudara bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan Dia. Inilah yang Tuhan kehendaki. Tetapi untuk bisa seperti itu:

Gereja harus menjadi dewasa

Tidak mungkin kalau anak-anak yang mengalaminya, karena itu kejarlah kedewasaan rohani. Jangan berkata: "Saya ini baru bertobat, mana mungkin cepat menjadi dewasa." Oh tidak, sekarang ini kalau Saudara mau dan rindu, maka Saudara akan menjadi dewasa. Ada suatu percepatan yang luar biasa pada hari-hari ini.

Pada waktu gereja kita berulang tahun yang ke 21, saya diingatkan tentang hukum di Indonesia yaitu orang yang sudah berumur 21 tahun dinyatakan akil balig/dewasa, tidak lagi membutuhkan perwalian.

  • Anak-anak, sukanya makanan yang lunak dan yang enak-enak. Kalau ditegur lalu merajuk/marah.
  • Orang dewasa membutuhkan makanan keras, tidak hanya susu dan makanan yang lunak-lunak. Mereka bukan hanya menyukai hiburan, tetapi teguran juga. Ketika ditegur mereka tidak merajuk, sebaliknya malah bertobat.

Karakternya seperti prajurit: "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." (2 Timotius 2:4). Tuhan Yesus berkata: "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu [apa yang Saudara butuhkan] akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:31-33).

Lolos dalam penyaringan

Memang kita semua dipersiapkan untuk menjadi Mempelai Kristus, yaitu orang yang hidupnya intim dengan Tuhan. Tetapi hari-hari ini Tuhan juga sedang membentuk satu pasukan khusus untuk menuai jiwa-jiwa. Caranya adalah dengan menyaring pasukan, seperti dulu ketika Dia merekrut 300 pasukan Gideon.

Bagaimana Tuhan merekrut pasukan Gideon?

Tuhan menyuruh mengumpulkan seluruh orang Israel , ada 32.000 orang laki-laki. Tuhan berkata: Yang takut, pulang saja. Yang pulang ternyata 22.000 orang, sehingga tinggal 10.000 orang.

Tuhan melihat masih banyak rakyat terdapat didalam 10.000 orang tersebut, sehingga disaring lagi dengan cara mereka disuruh minum.

  • Ternyata yang 9.700 orang minumnya sambil jongkok, mukanya langsung masuk ke air, sehingga yang dilihat hanya air saja, tidak melihat yang lain-lain. Air berbicara tentang berkat. Jadi 9.700 orang itu adalah kelompok orang yang hanya terpaku kepada berkat saja.
  • Tetapi yang 300 orang yang dipilih, caranya minum adalah: dia jongkok, mengambil air dengan mencedok, menjilat seperti anjing, dan matanya tetap tertuju meskipun sekali-sekali melihat air. Ini yang dipilih oleh Tuhan.

Ke 300 prajurit itu minum, tetapi tidak melihat air/ berkat terus menerus. Minum sambil terus melihat visi ke depan. Hal itu mengingatkan saya akan lagu ini :

"Kasih setia-Mu yang kurasakan, lebih tinggi dari langit biru,
kebaikan-Mu yang telah Kau nyatakan, lebih dalam dari lautan,
berkat-Mu yang telah kuterima, sempat membuatku terpesona ..."

Memang saya pernah ditanya: "Pak, mengapa pakai kata "sempat", tidak "selalu" membuat aku terpesona?" Kalau "selalu terpesona", itu seperti yang 9.700 orang tadi. Tetapi yang "sempat" itu hanya sekali-sekali "terpesona" melihat berkat itu, di lain sisi terus menerus bersyukur dan memandang kepada sang Pemberi Berkat, yaitu Yesus Kristus Tuhan. Marilah kita menguji diri kita masing-masing, kalau termasuk yang 300 ini berbahagialah Saudara.

Dikatakan "mereka menjilat seperti anjing". Memang hari-hari ini hubungan kita dengan Tuhan harusnya seperti "Proskuneo", yaitu gambaran hubungan seekor anjing dengan tuannya:

  • Anjing, setianya kepada tuannya luar biasa.
  • Anjing, cintanya kepada tuannya luar biasa.

Pada waktu di Jepang saya melihat di sebuah stasiun kereta api ada patung anjing. Ada kisahnya: Anjing ini setiap pagi mengantar tuannya ke stasiun naik kereta api, sore harinya dia datang ke stasiun itu lagi untuk menjemput tuannya. Bertahun-tahun dia melakukan seperti itu. Pada suatu hari setelah pagi hari mengantar tuannya, sore harinya ketika dia datang ke stasiun untuk menjemput, tuannya tidak kunjung tiba, dan selama-lamanya anjing itu di situ terus menunggu tuannya sampai ia mati.

Saya ingat pernah punya seekor anjing, sampai umur 17 tahun baru mati. Kami memelihara anjing itu sejak umur 2 bulan. Semakin besar anjing itu kelihatan semakin mengasihi istri saya. Kemana saja istri saya dia mengikut terus, kalau tidur dia selalu mengambil tempat di bawah tempat tidur istri saya. Yang luar biasa kalau istri saya sakit, dia selalu berada di bawahnya. Kalau istri saya tidak bisa makan, dia juga tidak mau makan. Sekali-sekali ia berdiri naik ke ranjang mengamati istri saya, setelah itu dia turun tidur lagi. Diam-diam ia selalu melihat wajah istri saya, kadang dia ber-action sampai istri saya ketawa-ketawa.

Pada waktu di Amerika saya ditanya Tuhan: "Seringkah/ pernahkah kamu membuat Aku tertawa?" Pertanyaan berlaku juga buat Saudara. Apakah hidup kita itu menyenangkan hati Tuhan, dan intim dengan Tuhan ?

Hidup di hadapan Tuhan

Pada waktu di Yerusalem saya diingatkan tentang suatu hukum bagi orang laki-laki Israel : 3 kali setahun harus menghadap Tuhan di Yerusalem.

  • Yerusalem letaknya di atas bukit, jadi kalau mau menghadap Tuhan mereka harus berjalan mendaki.
  • Setiap kali menghadap tidak boleh dengan tangan kosong, harus membawa persembahan.
  • Sambil mendaki, mereka harus menyanyikan Mazmur 120-134, itu adalah nyanyian ziarah.

Sambil mendaki mereka menyanyikan lagu ini. Pekerjaan rumah buat Saudara: baca Mazmur 120-134!! Ini Mazmur yang bertingkat, naik mendaki ke atas. Kalau Saudara melihat puncaknya adalah Mazmur 134:

"Pujilah Tuhan, hai semua hamba Tuhan,
Yang melayani di Rumah Tuhan,
Angkat tanganmu ke tempat kudus,
Pujilah Tuhan, puji nama-Nya."

Kita semua mengerti; kalau kita memuji-muji Tuhan dengan benar dan menyenangkan hati Tuhan, maka Tuhan akan bertahta di atas puji-pujian kita. Saudara akan bertemu dengan Tuhan. Ini berbicara tentang orang Israel menghadap Tuhan, dan ini juga merupakan pesan Tuhan buat kita. Hari-hari ini kita harus banyak menghadap Tuhan, berada di dalam hadirat-Nya, bercakap-cakap intim dengan Dia. Saudara bisa katakan apa saja yang Saudara perlukan kepada Tuhan. Ini rahasia yang harus Saudara mengerti.

Kadang-kadang kita bertanya-tanya: "Mengapa Tuhan tidak mendengar doa kita?" Oh tidak, Dia mendengar - apalagi kalau Dia bertahta di atas puji-pujian kita - dan bertanya kepada Saudara: "Apa yang kamu mau Aku lakukan bagimu?"

Untuk mencapai Mazmur 134 ada suatu pendakian dari Mazmur 120, 121 dan seterusnya. Sebelum membaca keseluruhan Mazmur 120-134 tersebut, Saudara belum punya suatu gambaran keseluruhannya.

Mazmur 120 itu luar biasa: "Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang membenci perdamaian. Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang." (Mazmur 120:6-7). Judulnya "Dikejar-kejar fitnah". Dalam keadaan seperti itu, kita semua harusnya menyukai perdamaian: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18).

Mazmur 120:1 berkata: "... Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku".

Kalau ini Saudara lakukan, maka engkau akan bertemu dengan Tuhan. Tetapi kalau Saudara melakukan yang sebaliknya, maka Saudara tidak akan bertemu dengan Tuhan.

"Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!" (Mazmur 131:3).

Hari-hari ini kalau hidup Saudara dalam kondisi seperti yang dialami oleh kota Padang , jangan coba berharap kepada yang lain. Tetapi sebelum seperti itu, hari ini kita berharap hanya kepada Dia.

Pemazmur mengajarkan bagaimana caranya berharap kepada Tuhan: "Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi." (Mazmur 130:6). Seorang pengawal yang mengawal pada malam hari, sangat mendambakan datangnya pagi hari.

Dulu saya pernah mengalami jadi pengawal, ketika dalam perkemahan Pramuka. Di dalam berkemah ada suatu aturan, kita harus siap diserang oleh regu/kelompok lain. Kalau mereka bisa mengambil sesuatu dari tempat kita, berarti mereka yang menang dan kita yang kalah. Malam hari kita harus berjaga-jaga, tidak boleh tidur. Saya ingat pada waktu itu suasana malam hari sangat mencekam dan gelap, jarak beberapa meter saja sudah tidak bisa melihat apa-apa. Yang diharapkan hanya satu, semoga pagi cepat datang, dan permainan itu selesai, lega rasanya.

Kita di dalam mengharapkan pertolongan Tuhan, itu rasanya lebih daripada seorang pengawal yang mengharapkan pagi, rasanya 'pagi' itu datangnya lama sekali. Tetapi satu hal yang pasti: fajar pasti merekah, 'pagi' pasti datang.

Apakah Saudara mempunyai persoalan seperti itu? Engkau mengharapkan pertolongan Tuhan, tetapi lama sekali rasanya. Berharaplah terus kepada Tuhan, lebih daripada pengawal mengharapkan pagi, karena pagi/fajar pasti merekah, persoalan Saudara pasti selesai, pertolongan hanya dari Tuhan.

Di Mazmur 133 - sebelum Mazmur 134 - ada sesuatu yang luar biasa yang harus kita kerjakan: "... alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya." (Mazmur 133:1-2).

Kalau Saudara lakukan itu, pengurapan Tuhan akan turun, urapan yang Tuhan berikan kepada saya, akan sampai kepada Saudara. Apa yang saya punya, akan Saudara dapatkan juga.

"Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133:3).

Memang untuk mencapai ini, seperti pesan Tuhan yang disampaikan oleh Tommy Tenney beberapa waktu yang lalu, yaitu kita harus mewujudkan unity.

Unity ada tingkatannya:

  • Dengan pribadinya sendiri.
  • Di antara keluarga.
  • Dengan orang-orang di sekitarnya.
  • Di gereja.
  • Antar gereja.

Kalau ini terjadi maka TRANSFORMASI untuk INDONESIA terjadi.

Sumber