Karakter yang dewasa (Khotbah Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA)

Dari GBI Danau Bogor Raya

Langsung ke: navigasi, cari
Karakter yang dewasa
Timotius Adi tan

Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA

Ringkasan Khotbah
KebaktianIbadah Raya 1
TanggalMinggu, 27 Juni 2010
GerejaGBI Danau Bogor Raya
TempatGraha Amal Kasih
KotaBogor

Ada banyak khotbah yang berbicara mengenai penyertaan Tuhan, mujizat, pengurapan Tuhan, terobosan, tapi sedikit sekali yang bicara mengenai karakter, padahal karakter adalah segala-galanya dalam hidup kita.

1 Timotius 4:12, Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus kepada anak rohaninya, Timotius. Kita akan bedah ayat satu ini, tentang karakter yang dewasa.

Seorang yang sudah tua belum tentu secara otomatis karakternya dewasa. Tetapi sebaliknya, seorang yang masih muda, belum tentu dia tidak bisa menjadi dewasa dalam karakternya karena kedewasaan karakter tidak ada hubungan dengan usia. Kedewasaan karakter tidak ada hubungan dengan jabatan seseorang, pengalaman seseorang.

Kedewasaan karakter diukur dari penerimaan akan tanggung jawab.

Seringkali ada orang yang sudah tua, berpengalaman, punya jabatan, tapi ketika suatu saat digoncangkan, ternyata baru keluar karakter yang sesungguhnya. Gampang marah-marah, kecewa. Jangan terjebak dengan karakter seseorang waktu di gereja ataupun gelar yang sangat panjang. Ciri yang dewasa adalah berani mengambil tanggung jawab.

Orang yang memiliki karakter yang dewasa adalah calon pasangan hidup yang potensial. Karakter sangat penting!

Orang seperti sebatang pohon. Kadang orang lebih tertarik pada buahnya, penampilan luarnya. Ada yang lebih tertarik mengenai batangnya, berbicara mengenai kepribadian dan karismanya. Tapi ingat, sebuah pohon akan bisa menghasilkan buah yang banyak dan batang yang kuat, tergantung pada akar yang tidak kelihatan. Walaupun tidak kelihatan, tapi pondasi dan dasar hidup seseorang adalah karakter.

Alkitab katakan, segala sesuatu yang kelihatan adalah sementara, yang tidak kelihatan adalah kekal (2 Korintus 4:18).

Tiga tingkatan kedewasaan

Stephen R Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People, menuliskan ada tiga tingkatan kedewasaan:

  • Dependent (bergantung) – Bayi
Selalu merepotkan orang lain, selalu memerlukan orang lain menolong dia. Mungkin usianya sudah tua, tapi tipenya selalu dependen, bergantung pada orang lain, selalu membutuhkan bantuan orang lain, seperti bayi tidak bisa mandiri.
Bayi itu lucu, tapi kalau sudah 40-60 tahun, kelakuan masih seperti bayi, sedikit ditegur, menangis, tidak bisa kerja, tidak bisa merenungkan firman Tuhan sendiri, selalu merepotkan orang lain. Itu bukannya lucu tapi menyebalkan.
  • Independent (mandiri) – Muda
Dia bisa mandiri, bekerja, mencari nafkah sendiri, membaca firman Tuhan sendiri. Tapi dia selalu merasa paling hebat, tidak butuh orang lain, ego yang sangat tinggi-kecenderungan anak muda.
Susah kalau kita punya pasangan hidup yang egois. Bekerja dalam pelayanan susah kali kita selalu menemukan orang yang paling hebat. No way! Tidak ada seorangpun hebat, hanya Tuhan yang hebat! Orang yang pada tingkat independent sering berkata, "Tanpa aku semuanya tidak jalan!"
Sudah saatnya gereja Tuhan harus terbuka, jangan merasa diri karismatik yang paling hebat. Semua aliran gereja punya sesuatu yang dahsyat. Karena Tuhan yang paling hebat. Amin!
  • Interdependence (kesalingtergantungan) – Dewasa
Ketika Tuhan menciptakan Adam, Adam sudah mandiri dan bisa mengatur taman Eden sendiri. Tapi Tuhan katakan, tidak baik dia sendiri.
Orang yang interdependent itu saling tergantung. Prinsipnya selalu "saling". Selalu bicara mengenai teamwork. Dia sadar perlu istri, teman, suami. Di kantor, dia membangkitkan tim yang kuat. Ketika memimpin, dia akan membangkitkan pemimpin-pemimpin yang lain. Prinsipnya adalah tidak ada superman di dunia ini, tapi super team!
Dia bisa masuk dan membawa Yesus kepada pejabat-pejabat, kampus-kampus, di pabrik-pabrik dia bisa masuk ke segala kalangan, dan mendemonstrasikan Yesus adalah Tuhan dalam kehidupan dia.
Orang interdependen ini sangat supel, sangat suka bekerja dalam tim.
Berbahagialah yang masih singel yang bisa menemukan karakter yang ketiga, dewasa.
Sekarang banyak orang yang karismanya tinggi tapi karakternya hancur. Di kampus-kampus banyak mahasiswi yang bisa dipakai. Kenapa? Karena karismanya tinggi tapi karakternya hancur.
Tubuh manusia adalah contoh kesalingtergantungan yang paling nyata. Untuk saling menelepon saja orang bergerak di seluruh tubuhnya.

Stephen Covey mengarang buku ini dan saya yakin seratus tahun lagi tidak akan ada buku sekuler yang bisa mengalahkan buku yang membahas mengenai karakter ini. Covey mengambil ini semua dari Alkitab.

Prinsip alkitab adalah prinsip saling! Saling membantu, mendoakan, mengokohkan, memberi, mengaku dosa. Prinsip saling adalah prinsip kesalingtergantungan. Orang yang dewasa bisa membangun teamwork karena karakternya sudah dewasa.

Lima ciri orang yang dewasa

Ada 5 ciri orang yang dewasa yang dituliskan Paulus dalam 1 Timotius 4:12:

  • Perkataan
  • Tingkah laku
  • Kasih
  • Kesetiaan
  • Kesucian

Perkataan

Apakah selama ini kata-kata kita membangun atau meruntuhkan seseorang? Dalam komsel, dalam COOL, coba sharingkan apakah dalam seminggu ini banyak kata-kata kita yang membangun atau meruntuhkan? Betapa sangat penting kata-kata yang kita ucapkan setiap hari. Kalau kita mau melihat orang dewasa atau tidak, harus dilihat dari kata-kata yang diucapkan dalam hidupnya sehari-hari.

Tingkah laku

Ada banyak orang dalam hidup ini tingkah lakunya selalu reaktif.

Reaktif adalah membiarkan pengaruh-pengaruh dari luar mengendalikan respon mereka. Mereka menjadi korban keadaan. Ketika menghadapi sesuatu yang tidak enak, langsung responnya reaktif, tidak enak, menyalahkan keadaan. Orang reaktif tingkah lakunya dikendalikan keadaan. Tidak dikasih senyum saja oleh Satpam, seharian kesal. Kalau keadaan pasar sedang bagus, dia semangat sekali. Kalau pasar sedang jelek, dia juga terbawa, jadi korban keadaan. Kalau suami sedang baik, dia senang, kalau suami sedang tidak baik, dia juga sama, terbawa. Orang yang reaktif selalu jadi korban keadaan dan tidak dapat bertumbuh.

Orang yang reaktif lawannya adalah proaktif.

Orang yang proaktif responnya didasarkan atas pilihan-pilihan bertanggung jawab yang dilandasi prinsip-prinsip keadaan, mereka selalu mempengaruhi keadaan. Dia memilih untuk tetap menang, berjuang, mempengaruhi keadaan. Orang-orang proaktif adalah para transformer di dunia ini. Coba renungkan apakah kita mudah dipengaruhi keadaan atau mempengaruhi keadaan.

Kalau kita belajar Alkitab, prinsip-prinsip ini sangat dahsyat sekali. Paulus, ketika menulis surat kepada jemaat di Filipi, dia sedang dalam keadaan terpasung di penjara, tanpa harapan. Tapi dari penjara, dalam kesepian, seharusnya Paulus katakan bersedihlah senantiasa, berdukacitalah senantiasa, dan matilah saya, karena keadaannya memang tidak baik. Tapi ternyata dalam keadaan seperti itu dia justru katakan bersukacitalah senantiasa, berdoalah senantiasa! (1 Tesalonika 5:16-18; Filipi 4:4) Paulus tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Dia punya Tuhan yang memberikan kekuatan bagi hidup dia.

Berikut adalah contoh bahasa orang yang reaktif dan proaktif:

Bahasa reaktif Bahasa proaktif
Aku sedih tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya, aku miskin, hidupku sudah habis. Memang papa mama saya miskin, memang keadaan tidak baik, tapi aku memilih untuk tetap sekolah. Aku akan memberikan les tambahan, aku akan jadi salesman, aku akan tetap sekolah!
Hatiku hancur dia khianati aku, aku tidak percaya ada cinta sejati. Aku tidak akan pernah percaya lagi pada pria, semua pria adalah bajingan! Memang saya hancur ditinggalkan kekasih saya, tapi aku memilih tetap bersyukur, karena aku percaya suatu saat Tuhan pasti memberi pasangan yang terbaik.
Aku pesimis bisa berhasil dalam pekerjaan, bos-ku di kantor pilih kasih. Memang bosku pilih kasih, tapi aku memilih bekerja dengan rajin dan inovatif karena yang harus berubah bukan orang lain, tetapi diri sendiri. Aku bekerja untuk Tuhan bukan untuk manusia. Kalau aku bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan segenap hati jiwa dan kekuatan, aku percaya promosi itu datangnya dari Tuhan yang menciptakan langit bumi dan segala isinya.
Gara-gara pekerjaanku sibuk, aku tidak bisa bertumbuh dan melayani Tuhan. Memang aku sibuk, tapi aku memilih menyediakan waktu khusus untuk saat teduh dan melayani. Melayani bukanlah beban tetapi anugerah Tuhan.

Orang reaktif selalu menyalahkan dan menyesali keadaan, tapi yang proaktif percaya bahwa Tuhan bisa memberikan mujizat-mujizat! Orang proaktif selalu cari jalan keluar, mempengaruhi keadaan.

Kalau kita bisa melayani, itu bukan karena kita mau, tapi anugerah Tuhan. Orang proaktif memilih untuk selalu mengambil kesempatan yang Tuhan berikan. Orang proaktif tidak terpengaruh keadaan.

Ada sebuah ilustrasi, di Puncak ada Kijang Innova dengan truk yang hampir tabrakan di sebuah kelokan. Supir truk berteriak "Sapi!" Supir Innova sambil melaju menjadi panas dan membalas, "Kalau saya sapi, kamu kotoran sapi!" Di depannya, ternyata ada sekawanan sapi dan benar-benar dia tabrakan dengan sapi dan harus masuk rumah sakit. Ternyata supir truk tadi bermaksud baik untuk memberitahu bahwa ada sapi di depannya, tapi dia reaktif dan akhirnya tabrakan.

Orang proaktif melihat di semua peristiwa ada tangan Tuhan yang turut bekerja mendatangkan kebaikan.

Kasih

Dalam kasih, segala sesuatu dilakukan untuk kebaikan orang lain, walaupun mengorbankan diri sendiri. Kasih bentuknya adalah memberi.

Yohanes 3:16, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kebalikannya, hawa nafsu, segala sesuatu dilakukan untuk memuaskan diri sendiri, walaupun mengorbankan orang lain. Hawa nafsu bentuknya adalah mengambil.

Orang yang hawa nafsu, tidak senang melihat orang lain lebih sukses, tidak bersukacita kalau orang lain dipakai Tuhan. Orang yang memiliki kasih, dia mau memberi kesempatan dan encourage orang lain supaya lebih maju dalam hidupnya. Mari punya karakter kasih dalam hidup kita.

Kalau seorang pria mengambil kegadisan pacarnya, itu bukan kasih tapi hawa nafsu. Karena kasih akan menjaga pasangannya sampai pernikahannya diberkati Tuhan.

Karakter akan terlihat dalam kasih dan kesetiaan.

Kesetiaan

Kesetiaan kelihatan pada saat situasi dan keadaan yang tidak baik, tidak ada yang melihat/memuji, tetapi tetap melakukan tugasnya dengan tekun. Alkitab katakan, setiap pada perkara kecil! Walaupun bos tidak melihat, tapi tetap bekerja dengan tekun.

Kalau anak kecil tidak bisa setia, gampang sekali bosan. Salah satu ciri orang yang tidak dewasa adalah tidak setia. Di dunia ini sangat banyak orang pintar dan hebat, tapi orang yang setia dan jujur sangat susah menemukannya. Tapi saya percaya, di gereja ini banyak orang yang setia dan jujur! Haleluya!

Seorang suami harus setia. Banyak figur yang terkenal dan hebat, tapi gonta-ganti pasangan. Kesetiaan itu teruji oleh waktu, ketika tidak ada seorangpun yang memuji kita, bertepuk tangan untuk apa yang kita kerjakan. Orang yang setia pada hal yang kecil, satu saat Tuhan akan berikan perkara yang besar bagi hidup dia.

Daud waktu akan berperang esoknya melawan Goliat, dia sedang menggembalakan domba-dombanya. Sebelum pergi, dia titipkan dulu domba-dombanya yang mungkin hanya sedikit itu kepada penjaga yang lain. Daud sejak kecil telah setia akan perkara yang kecil.

Generasi muda harus diajarkan bahwa tidak ada yang instan dalam hidup ini. Kesetiaan itu harus teruji oleh waktu. Siapa yang suka gonta-ganti pacar? Orang yang setia akan setia sampai mati kepada pasangan hidupnya. Hanya maut yang bisa memisahkan.

Andai semua orang Kristen setia pada pelayanan, pasangan, dan pekerjaannya, maka nama Tuhan dipermuliakan. Karakter kita adalah kehidupan kita sendiri.

Kesucian

Kesucian adalah originalitas (genuine) hati yang tulis dan transparan.

Penutup

1 Timotius 4:12 berbicara tentang kedewasaan. Ada 5 hal ciri kedewasaan yaitu:

  • Perkataan. Mari latih perkataan kita. Seminggu ini katakan kata-kata positif.
  • Tingkah laku. Tingkah laku itu tidak reaktif tapi proaktif dan mempengaruhi keadaan. Jangan gampang marah, gampang kecewa.
  • Kasih. Kasih, bukan hawa nafsu. Kasih adalah memberi, membangkitkan orang lain, encourage orang lain.
  • Setia. Bertobat kalau ada yang tidak setia pada pasangannya. Ini adalah ciri buah Roh Kudus.
  • Kesucian.

Kalau Saudara praktekkan 5 ciri ini, maka akan ada mujizat dan nama Tuhan akan dipermuliakan!

Kumau seperti-Mu Yesus,
disempurnakan selalu
Dalam seg'nap jalanku
memuliakan nama-Mu