Bangkit dan menjadi teranglah! (Khotbah Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo)

Dari GBI Danau Bogor Raya

Langsung ke: navigasi, cari
Bangkit dan menjadi teranglah!
Niko Njotorahardjo-20110305-3x4.jpg

Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo

Ringkasan Khotbah
Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo
KebaktianIbadah Raya
TanggalMinggu, 6 Maret 2011
GerejaGBI Jalan Gatot Subroto
TempatJCC Senayan
KotaJakarta

Pendahuluan

Tuhan memberikan tema untuk tahun 2011. Tuhan katakan bahwa, “Tahun 2011 ini adalah Tahun Multiplikasi dan Tahun Promosi!” Amin!

Ada beberapa Pesan Tuhan yang telah kita dengar pada bulan yang lalu; yaitu:

1. Tahun 2011 adalah Tahun Transisi, Tekanan, Stres, dan Goncangan

Banyak nabi-nabi yang juga mendapatkan bahwa tahun 2011 ini adalah Tahun Transisi, maksudnya masa peralihan; bisa ke arah yang baik dan bisa ke arah yang buruk, tergantung respon kita. Tetapi saya berdoa setiap kita yang mendengarkan firman Tuhan, semuanya akan memperoleh yang baik.

Para nabi juga mendapatkan bahwa tahun 2011 ini adalah Tahun Tekanan, Tahun Stress Besar, Tahun Goncangan-goncangan. Itu memang benar! Kalau Saudara lihat, apa yang selama ini saya disuruh oleh Tuhan untuk memperkatakannya - dan mungkin Saudara sudah bosan mendengar “goncangan-goncangan ... goncangan-goncangan” - tetapi memasuki tahun 2011 kita sungguh-sungguh dikejutkan oleh begitu cepatnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara digoncang oleh Tuhan. Belum lagi yang berupa bencana alam, semua digoncang-goncang! Perhatikan baik-baik, Tuhan berkata, “Ini baru permulaan!”

2. Janganlah takut!

Mungkin Saudara diingatkan kembali tentang angka “26”. Beberapa waktu yang lalu kita tiba-tiba diingatkan tentang angka “26” ... ”26” ... ”26” ..., mengapa?

Sebab banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia terjadi pada tanggal 26. Kemudian ada satu koran memberikan data bahwa sejak tahun 1531 ada 39 kali bencana alam di seluruh di dunia yang terjadinya pada tanggal 26. Dan yang menarik, dari 39 kali bencana, 7 di antaranya terjadi di Indonesia. Yang pertama adalah Gunung Krakatau yang meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Dan dari 39 kali bencana, 6 yang terakhir semuanya terjadi di Indonesia.

Ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi Tuhan mau berbicara tentang angka “26”. Tuhan memberikan pesan buat Indonesia dan yang saya percaya juga buat dunia, yaitu dari Hagai 2:6 yang berkata, ”... Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!”

Mengapa? Sebab ayat 7-10nya berkata, “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

Mengapa Rumah Tuhan yang terakhir ini akan lebih megah lagi? Sebab akan lebih banyak lagi orang yang berseru kepada Nama Tuhan Yesus. Dan mereka yang berseru kepada Nama Tuhan Yesus akan diselamatkan. Amin!

3. Mujizat masih ada!

Apakah Saudara mau mengalami multiplikasi dan promosi? Dengarlah, di tengah-tengah tekanan, stress besar dan goncangan-goncangan justru multiplikasi dan promosi akan terjadi dalam kehidupan Saudara. Mengapa? Sebab Mujizat Masih Ada!

Apakah Saudara mau mengalami multiplikasi dan promosi? Ingat baik-baik, kuncinya adalah: Memperhatikan perintah-perintah Tuhan! Mendengar suara Tuhan sungguh-sungguh!

Kalau Saudara mau lebih jelas akan suara Tuhan dan mendengarkan perintah-perintah-Nya, tidak ada jalan lain, kita harus hidup intim dengan Tuhan karena kita memiliki kasih yang mula-mula. Amin!

Mari kita buka Keluaran 15:26, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”

Saudara pegang baik-baik ayat ini sebab ini adalah janji Tuhan buat Saudara dan saya, tetapi:

  • dengar baik-baik perintah Tuhan,
  • dengarkan sungguh-sungguh suara Tuhan, dan
  • lakukan apa yang menjadi ketetapan-Nya.

Dan Tuhan berjanji bahwa kepada Saudara akan diberikan hidup yang sehat. Tuhan tidak akan menimpakan penyakit mana pun yang pernah Dia berikan kepada orang-orang Mesir, sebab Tuhan berkata, “Akulah Tuhan Allahmu, penyembuhmu!”

Saya tidak tahu keadaan Saudara hari ini; adakah di antara Saudara yang sedang sakit? Maksud saya:

  • mungkin itu bukan hanya sakit secara fisik saja,
  • mungkin mental-jiwa Saudara sedang sakit akibat tekanan-tekanan berat dalam hidup, sehingga hari ini Saudara tidak tahu apa yang harus diperbuat,
  • mungkin Saudara kebingungan dan ketakutan,
  • mungkin ada hubungan suami-istri atau orangtua-anak yang sedang kurang sehat,
  • mungkin keuangan atau ekonomi Saudara sedang sakit,

tetapi firman Tuhan berkata, kalau kita sungguh-sungguh mendengarkan perkataan-Nya, mendengar perintah-perintah-Nya dan melakukan ketetapan-ketetapan yang Dia berikan kepada kita, maka Tuhan berjanji bahwa Dia akan menyembuhkan. Sebab Tuhanlah Sang Penyembuh itu!

Daftar isi

Bangkit dan menjadi teranglah!

Sekali lagi saya mau bertanya kepada Saudara, apakah Saudara mau mengalami multiplikasi dan promosi? Inilah kuncinya, “Bangkitlah dan menjadi teranglah! Sebab terangmu sudah datang dan kemuliaan Tuhan sudah terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu!” Amin!

Tuhan Yesus pernah berkata, “Kamu adalah terang dunia!” (Matius 5:14). Apa artinya menjadi terang dunia? Tuhan Yesus berkata bahwa kita diumpamakan seperti kota di atas gunung yang tidak tersembunyi sehingga semua orang bisa melihatnya. Kita seperti pelita yang ditaruh di atas kaki dian bukan disembunyikan di bawah gantang, artinya agar semua orang bisa melihatnya. Saya lebih cocok kalau kata-katanya sedikit diubah, jadi bukan menunjukkan melainkan memamerkan kebaikan yang kita lakukan kepada dunia, supaya Nama Bapa dimuliakan.

I. Memamerkan kebaikan supaya nama Bapa dimuliakan

Memamerkan itu artinya: apa yang nampak dari luar itu sama dengan yang di dalam.

Dunia mengajarkan: yang penting adalah penampilan luarnya, meskipun dalamnya ‘bobrok’ tidak apa-apa. Bahkan akhir-akhir ini lebih hebat lagi; karena penampilan luarnya ‘bobrok’ dan dalamnya juga ‘bobrok’ namun tetap diterima juga. Itulah dunia. Tetapi kita bukanlah berasal dari dunia ini. Yang Tuhan mau kita menjadi terang, artinya memamerkan kebaikan yang dilakukan. Kebaikan kita nyata di luar dan di dalam hatinya juga sama demikian, supaya Nama Bapa dipermuliakan. Amin!

Kalau itu yang kita lakukan, maka sesuai Yesaya 60 ada 5 hal yang akan terjadi dan inilah yang dinamakan transformasi total atau multiplikasi dan promosi.

Jadi kalau kita bangkit dan menjadi terang yang terjadi adalah :

  • Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu dan raja-raja kepada cahaya yang terbit atasmu.
  • Kelimpahan dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.
  • Tuhan memberikan damai sejahtera dan keadilan.
  • Tidak ada lagi kekerasan terjadi di negerimu.
  • Penduduknya semuanya orang-orang benar.

Keadaan seperti ini pasti terjadi ketika Tuhan Yesus memerintah sebagai Raja di bumi selama 1.000 tahun. Tetapi hari-hari ini tugas Saudara dan saya adalah menuju ke sini, yakni kita harus menjadi terang! Apakah Saudara mau bangkit dan menjadi terang?

Supaya menjadi terang, maka ada 2 hal yang harus dilakukan, yaitu :

1. Menjaga supaya api Roh Kudus tetap menyala dalam kita

Orang-orang Lewi pada Perjanjian Lama diberi tugas untuk mengurus Bait Allah di mana pelita yang diletakkan di dalam ruang suci Bait Allah harus dijaga agar apinya tetap menyala. Bagaimana caranya? Yang mereka lakukan adalah :

a. Setiap hari memeriksa persediaan minyak

Setiap hari kalau minyaknya kurang akan mereka tambahkan. Demikian juga Saudara dan saya, kalau mau menjadi terang setiap hari kita harus mengecek apakah minyak pelita kita cukup atau tidak. Minyak berbicara tentang Roh Kudus. Jadi kalau sejak pagi hingga sore kegairahan dengan Tuhan berkurang, malas baca firman Tuhan, malas berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, maka jangan tunggu lama-lama; cepat minta ditambahkan minyak serta koreksi diri; ada apakah dengan diri kita. Jika terlalu lama membiarkan hal itu, maka keadaan kita akan susah nantinya. Begitu juga kalau sudah susah dan terus dibiarkan; maka lama-kelamaan apinya akan padam.

b. Memotong sumbu yang hangus

Nyala api pelita tersebut juga ditentukan oleh kondisi sumbunya. Jadi jika sumbunya mulai hitam maka segera dipotong supaya nyala apinya tetap bagus.

Demikian pula dengan kita, kalau sumbu kita mulai hitam maka akan dipotong. Siapakah yang memotongnya? Tuhanlah yang memotongnya dan kita mengizinkan supaya Tuhan memotongnya.

  • Kalau sumbunya mulai hitam karena ‘sombong’, biarlah dipotong Tuhan supaya menjadi rendah hati. Sebab Tuhan membenci orang yang sombong tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6b; 1 Petrus 5:5b).
  • Kalau sumbunya hitam karena memakai pikirannya sendiri dan kehendak sendiri, perlu dipotong supaya dalam melakukan segala sesuatu dasarnya adalah firman Tuhan.

Waktu dipotong memang sakit, tetapi tidak apa-apa karena Saudara akan mengalami multiplikasi dan promosi, sebab Saudara akan menjadi terang. Amin!

2. Menjaga baik-baik mata jasmani dan rohani kita

Tuhan Yesus berkata, ”Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Matius 6:22-23)

Supaya mata kita baik, maka pandangan kita harus senantiasa tertuju kepada Yesus. Mazmur 123:2, “Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.”

Bulan yang lalu Tuhan berbicara tentang telinga yang panjang supaya kita lebih bisa mendengar suara Tuhan, dan bulan ini Tuhan berbicara tentang mata, supaya mata rohani dan jasmani kita senantiasa memandang kepada Dia sehingga sikap, motivasi dan kelakuan kita semuanya selaras dengan apa yang Tuhan kehendaki. Amin!

II. Sikap yang menghasilkan terobosan kelimpahan

Ishak adalah model orang yang bangkit dan menjadi ‘terang’. Kita semua pernah mendengar kisah tentang bagaimana Ishak menjadi kaya, makin lama makin kaya dan menjadi sangat kaya secara materi. Tetapi Tuhan tidak berhenti sampai di situ saja, karena Tuhan terus meningkatkan lagi dan yang terakhir yang Tuhan berikan kepada Ishak adalah keluarga yang diberkati Tuhan.

Apakah Saudara mau diberkati secara materi? Siapa yang mau keluarganya diberkati Tuhan? Mari kita lihat bersama bagaimana Tuhan memultiplikasikan dan mempromosikan Ishak.

1. Hidup intim dengan Tuhan

Pada saat kelaparan sedang mengguncang negeri itu, Tuhan menampakkan diri kepada Ishak. Mengapa Tuhan bisa menampakkan diri kepadanya? Jawabannya hanya satu, yaitu karena Ishak intim dengan Tuhan.

2. Tidak memakai sistem dunia

Tuhan mulai berbicara kepada Ishak, “Ishak, kamu jangan pergi ke Mesir!” Mesir berbicara tentang sistem dunia. Kepada kita Tuhan berkata, “Jangan pakai cara-cara dunia!” Tuhan mau mempromosikan Saudara dan mau memultiplikasikan seluruh aspek kehidupan kita, tetapi jangan memakai cara-cara dunia!

3. Tidak terikat oleh harta duniawi

Tuhan berkata kepada Ishak, “Kamu pergi ke suatu tempat yang akan Aku tentukan kepadamu dan kamu tinggal sebagai orang asing”. Saudara, ini adalah pesan yang bagus buat kita. Di dunia ini kita adalah orang asing, kita adalah pengembara dan kita tidak boleh terikat dengan barang-barang dari dunia ini. Amin!

Saudara jangan terikat! Sebab di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Sekarang Saudara tentukan sendiri, yang manakah hartamu?

4. Menabur

Pada tahun itu juga, yaitu pada masa kelaparan Ishak menabur! Ini bukan suatu hal yang biasa. Sebab untuk mencari benih saja sudah sulit. Mungkin pada waktu itu persediaan benih tidak jadi ditabur, melainkan dimakan karena waktu itu sedang terjadi kelaparan. Tetapi bagi Ishak benih itu justru ditabur.

Saudara ini penting! Mungkin hari-hari ini Saudara sedang mengalami kesulitan dalam hal keuangan, tetapi kalau Tuhan menghendaki, kuncinya adalah: benih harus ditabur! Jangan takut! Sebab Tuhan sediakan wadahnya untuk menabur dan Saudara akan melihat nanti!

Bulan yang lalu kita telah memberikan buah sulung kita. Tuhan berkata dari Amsal 3:9-10, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Saya mau bertanya kepada Saudara, apakah Saudara mengalami sesuatu yang luar biasa setelah memberikan buah sulung? Saya mau beritahu Saudara bahwa saya pribadi benar-benar mengalami sesuatu yang luar biasa dan janji Tuhan memang benar adanya, sebab saya juga banyak mendengar banyak kesaksian-kesaksian.

Biarlah kita memperhatikan kehendak Tuhan dalam menentukan persembahan buah sulung tersebut, seperti saya katakan dahulu bahwa minimal 10%, dan ternyata banyak kesaksian-kesaksian yang begitu luar biasa.

Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Ishak menabur dan saya tahu bahwa itu memang disuruh Tuhan. “Bagaimana ini Tuhan, untuk makan saja tidak cukup?”, tetapi Tuhan katakan, “Tabur!” Akhirnya Ishak pun menabur dan pada tahun itu juga ia diberkati 100x lipat. Ishak menjadi kaya, makin lama makin kaya dan menjadi sangat kaya. Apakah Saudara mau menjadi sangat kaya?

Tuhan memultiplikasikan kekayaan secara materi, tetapi sekali lagi; Tuhan tidak tinggal diam hanya di situ, sebab Dia meningkatkan terus dan sekarang Tuhan memultiplikasikan, mempromosikan dan memberkati kehidupan keluarga.

III. Langkah-langkah ke arah terobosan kelimpahan

1. Mencari air

Tuhan sudah berbicara kepada Ishak bahwa Dia akan memberkati keluarganya dan Tuhan memberikan Ishak hikmat, yaitu: cari air!

Air berbicara tentang sesuatu yang sangat vital keluarga besar yang mempunyai ternak dan tanaman. Bagaimana Ishak mencarinya? Dia menggali kembali sumur-sumur ayahnya, Abraham - yang pernah ditimbun oleh orang-orang Filistin.

Pada masa kini air berbicara tentang sesuatu yang amat vital bagi hidup kita. Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Roti Hidup dan Air Hidup. (Yohanes 4:10-11; 6:35, 48, 51; 7:38). Sebagai orang percaya masa kini, kita harus senantiasa mengutamakan untuk mencari hadirat dan tuntunan Tuhan bagi hidup kita.

2. Menghindari pertengkaran dan mengalah

  • Yang luar biasa, di tempat pertama oleh karena Ishak memang diberkati, begitu menggali sumur keluarlah mata air yang berbual-bual airnya. Tetapi itu tidak lama karena gembala-gembala Filistin datang dan berkata, “Ini punya kami! Kamu harus pergi ...!” Para gembala itu mengajak Ishak bertengkar, tetapi apa yang dilakukan Ishak?
Ishak menjadi terang dan berkata kepada anak buahnya, “Buat apa kita bertengkar gara-gara ini, sudahlah ...” Mungkin saja anak buahnya berkata, “Mana bisa!”, tetapi Ishak berkata, “Sudahlah, kita pergi saja ...” Dan tempat itu dinamakan Esek yang artinya ‘perselisihan’.
  • Lalu Ishak pergi ke tempat kedua dan Ishak tetap diberkati karena begitu menggali sumur, keluarlah airnya yang berbual-bual. Tetapi tidak lama juga sukacita itu sebab gembala-gembala Filistin datang dan mengajak bertengkar, “Ini punya kami! ... Ini punya kami!”
Tetapi Ishak kembali mengalah dan berkata, “Sudahlah, jangan kita bertengkar, marilah kita pergi ...” Maka dinamailah tempat itu Sitna yang artinya ‘berselisih lagi’.
  • Lalu Ishak pergi ke tempat yang ketiga yang bernama Rehobot , di situ dia menggali sumur dan Tuhan memberkatinya sehingga air keluar berbual-bual, tetapi kali ini tidak ada pertengkaran lagi. Perhatikan apa yang kemudian dikatakan Ishak, “Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.” (Kejadian 26:22). Artinya Ishak mengerti bahwa pertengkaran di mana dia diserang dan dicemburui itu semuanya atas seizin Tuhan. Tergantung bagaimana respon Ishak karena Tuhan mau melihatnya.

Jadi orang yang mau diberkati itu tergantung responnya terhadap masalah yang datang dalam hidupnya dengan seijin Tuhan. Tahun 2011 adalah Tahun Transisi, keadaan kita bisa menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu tergantung respon kita. Mungkin Saudara ada yang sedang mengalami hal seperti ini di mana engkau sedang diberkati sekarang. Tetapi itu belum selesai karena Tuhan akan memberikan berkat-Nya dengan multiplikasi dan promosi. Tetapi Tuhan menguji kita terlebih dahulu. Kalau secara akal pikiran, Ishak ini kaya. Dia bisa menyewa tentara atau tukang pukul untuk menghadapi para gembala Filistin. Tetapi itu tidak dilakukan Ishak; sebaliknya dia berkata, “Untuk apa seperti itu, berkat datangnya dari Tuhan dan Tuhan akan menggantinya”.

Meskipun Ishak diuji berkali-kali, namun dia tetap setia. Mungkin dalam ujian pertama dia bisa lebih mudah berhasil, tetapi kalau sudah berkali-kali tentu tidak semudah itu.

Tuhan pernah berkata, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” (Matius 5:39-41).

Kalau Saudara melakukan hal ini berarti Saudara juga melakukan apa yang dilakukan Ishak, yaitu menjadi terang! Menjadi terang itu memang tidak gampang, tetapi Ishak bisa melakukannya. Dan Tuhan tidak mungkin menyuruh kita melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Semua hanya tergantung kepada kita, apakah kita mau mengalami multiplikasi dan promosi atau tidak?

Saudara, sampai di Rehobot airnya keluar dan mereka bersukacita, lalu mereka pindah serta menggali lagi. Pada saat menggali itu, Tuhan menampakkan diri kepada Ishak dan berkata, “Aku berjanji keluargamu akan Aku berkati berlimpah-limpah!” Dan janji berkat itu bukan hanya kekayaan secara materi tetapi juga dalam keluarga. Apakah Saudara mau keluarganya diberkati?

Setelah itu apa yang terjadi? Raja Filistin yang bernama Abimelekh, yang pernah mengusir Ishak datang kepadanya. Ishak pun terkejut dan berkata, “Mengapa kamu datang kepadaku, bukankah kamu benci kepadaku?” Tetapi Abimelekh berkata, “Aku datang mau mengadakan perjanjian damai dengan kamu!” Bayangkan seorang raja yang memiliki prajurit datang kepada Ishak. Kalau raja itu mau menyerang Ishak tentu mudah saja. Ishak juga kaya sehingga dia bisa menyewa tentara, jadi bisa saja dulu timbul peperangan. Tetapi Abimelekh adalah Raja Filistin di mana Ishak dulu tinggal di daerahnya. Dan tahukah Saudara apa kata Abimelekh? Raja Filistin itu berkata, “Aku melihat Tuhan memberkati engkau!”

Saudara, pernahkah Saudara bayangkan seandainya setiap kali gembala-gembala Abimelekh ini datang untuk mengajak bertengkar kemudian Ishak meladeni pertengkaran itu, maka Abimelekh tidak akan sampai berkata, “Aku melihat Tuhan memberkati engkau!” Pasti Ishak akan dikutuki habis-habisan dan tidak mungkin juga Ishak diberkati.

Saudara yang dikasihi Tuhan, saya tahu ini adalah pesan Tuhan bagi kita. Mungkin ada di antara Saudara yang hari-hari ini sedang diberkati Tuhan, mungkin Saudara mulai diganggu yang macam-macam, tetapi satu hal: jangan bertengkar!

Berkat-berkat dalam kehidupan keluarga

Tadi saya renungkan bagaimana Tuhan membukakan sesuatu yang vital, yaitu air yang dicari terlebih dahulu sebagai dasar untuk berkat dalam keluarga. Dan kalau Saudara membaca Mazmur 128, maka dikatakan bahwa kunci berkat dalam keluarga adalah kepala keluarga itu harus takut kepada Tuhan. Inilah yang harus digali sungguh-sungguh. Kalau Saudara mau diberkati dalam keluarga bahkan sampai anak-cucu, maka kepala keluarga harus takut kepada Tuhan!

Saya pernah diberi data sebagai berikut:

  • Jika dalam satu keluarga; ibunya sungguh-sungguh dengan Tuhan dan ayahnya kurang sungguh-sungguh, maka prosentase anak-anaknya yang sungguh-sungguh sekitar 30%.
  • Jika dalam satu keluarga; ayahnya sungguh-sungguh kepada Tuhan dan ibunya kurang sungguh-sungguh, maka prosentase anak-anaknya yang sungguh-sungguh sekitar 70%.
  • Tetapi kalau ayah dan ibunya sungguh-sungguh dengan Tuhan, maka prosentase anak-anaknya yang sungguh-sungguh adalah 100%.

Saya tidak berbicara apakah itu keluarga pendeta atau bukan pendeta, semua sama karena semua orang berurusan dengan Tuhan, tetapi data ini bisa dijadikan pegangan. Mari gali ini terus supaya keluargamu diberkati Tuhan.

Kesaksian pelayanan

Saya mau bersaksi tentang bagaimana Tuhan mempromosikan dan memultiplikasikan kehidupan saya.

Dulu saya adalah seorang businessman yang dibuat bangkrut oleh Tuhan gara-gara dipanggil Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan tetapi tidak taat. Melalui situasi itu saya dipaksa untuk menjadi hamba Tuhan, dan kepada saya Tuhan memberikan satu tugas khusus, yaitu merestorasi Pondok Daud, yaitu doa, pujian dan penyembahan. Jadi saya adalah orang pertama di Indonesia yang fulltime pelayanan di bidang ini. Karena ini adalah satu pelayanan yang pertama pasti tidak banyak orang yang tahu akan hal ini, bahkan hanya sedikit orang yang mengerti tentang pelayanan ini.

Saya mulai disuruh oleh Tuhan untuk pelayanan ke mana-mana dan diberikan lagu sehingga orang-orang mulai melihat walaupun belum menangkapnya. Suatu saat Bapak Alex Abraham Tanuseputra datang kepada saya dan berkata, “Nik, jadi pendeta saja di GBI”. Awalnya saya menjawab bahwa itu tidak perlu dan biarlah saya tetap seperti ini, tetapi beliau tetap menyuruh saya sehingga akhirnya saya mengiyakan.

Lalu saya didaftarkan untuk menjadi Pendeta Pembantu (Pdp) di Gereja Bethel Indonesia. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata saya ditolak jadi pendeta! Mengapa? Sebab pelayanannya tidak jelas! Waktu itu saya sempat shock dan berkata kepada Pak Alex, “Sudahlah, saya tidak usah jadi pendeta-pendetaan!” dan beliau menenangkan saya serta berkata, “Nik, jangan begitulah ...”

Akhirnya saya diterima sebagai Pendeta Pembantu - mungkin dengan agak terpaksa, namun tiba-tiba Tuhan memakai saya. Saya bukanlah keluaran Sekolah Teologia sehingga saya tidak mengerti bagaimana kode etik dalam menanam gereja. Tetapi tiba-tiba Tuhan menyuruh saya untuk membuka dan saya ingat pernah pada tahun 1996-1998, dalam masa 1½ tahun, saya pernah menanam ± 200 gereja!

Apa yang terjadi? Hal itu menggemparkan Sinode dan bahkan Indonesia! Ketua Umum Sinode menanyakan bagaimana bisa sampai demikian; karena memang terjadi kegoncangan di Indonesia.

Saya memang tidak memahami etika dalam pembukaan gereja, tetapi untung saya tidak mengerti, sebab kalau saya mengerti maka tidak mungkin saya akan membuka gereja. Karena ketidaktahuan saya dan saya menganggap ini pesan Tuhan, namun kemudian hal ini menimbulkan goncangan.

Akibatnya selama sebelas tahun hubungan saya dengan sesama hamba-hamba Tuhan di lingkungan GBI menjadi kurang harmonis. Selama 11 tahun itu jika ada Sidang MD (yang biasanya diadakan setahun sekali) maka saya hanya hadir pada acara pembukaan dan penutupan. Mengapa? Saya tidak berani hadir di sepanjang sidang karena saya terus menerus dipermasalahkan dalam hal penanaman gereja tersebut.

Saya tidak pernah lupa dengan Om Ho (Pdt. Prof. Dr. Ho Lukas Senduk) yang sudah almarhum sekarang. Beliau adalah bapa atau pendiri GBI. Beliau selalu menunggui saya selama bertahun-tahun. Kalau saya datang, beliau menggandeng saya dan berkata, “Niko, jangan ladeni mereka. Jangan ladeni ...” Saya hanya menjawab, “Ya Om ... ya.” Ketika itu saya hampir tidak kuat lagi. Tetapi satu hal yang saya ingat adalah saya belum pernah mengajak mereka bertengkar. Jadi setiap kali diserang, saya selalu mundur dan menghindarinya. Dan itu yang saya lakukan terus.

Gereja pun lalu berkembang dan hingga hari ini gereja yang sudah ditanam ± 800 gereja yang tersebar di benua-benua; bahkan di Afrika pun sudah ada. Dan jemaat yang berbakti di wadah ini termasuk anak-anak berjumlah ± 250.000 orang. Dan itu ditambah lagi dengan 9.000 orang hamba Tuhan yang tergabung dalam Persekutuan Hamba-hamba Tuhan Garis Depan dari pelbagai denominasi yang meminta saya menjadi bapa-nya.

Ini hanyalah sekedar data; tetapi beberapa tahun yang lalu, saya hampir menangis karena sebagai orang yang pernah ditolak menjadi pendeta, justru kemudian saya dicalonkan sebagai ketua umum Sinode.

Saudara yang dikasihi Tuhan, itu adalah satu promosi dan multiplikasi, tetapi harganya memang luar biasa - sama seperti Ishak pada masa itu. Tetapi satu hal yang saya pegang, bahwa saya tidak pernah meladeni pertengkaran. Dan saya tahu pasti bahwa promosi dan peninggian itu datangnya dari Tuhan.

Alkitab katakan, “Bukan dari barat, bukan dari timur, bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi dari Tuhan, sebab Dia adalah Hakim! Direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.” (Mazmur 75:7-8). Tuhan Yesus yang mempromosikan kita! Haleluya!

Karena itu jangan salah persepsi dengan makna istilah ‘multiplikasi’ dan ‘promosi’. Saya kadang-kadang takut salah, sebab mereka pikir itu seenaknya sendiri. Firman Tuhan berkata, “Jangan ingin menjadi kaya” (1 Timotius 6:9).

Apakah Saudara mengerti akan hal ini? Maksudnya adalah jangan ingin menjadi kaya sebab menjadi kaya itu bukanlah tujuan melainkan dampak. “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak menambahinya.” (Amsal 10:22). Terutama bagi generasi muda dan saya disuruh Tuhan untuk terus menerus menyampaikan hal ini, sebab banyak dari mereka yang tidak memahaminya.

Pada waktu Tuhan Yesus diajak Iblis naik ke atas sebuah gunung yang tinggi dan kepada-Nya diperlihatkan kerajaan dunia serta segala kemegahannya. Iblis berkata kepada Tuhan Yesus, “Semuanya ini akan kuberikan kepadamu jika Engkau mau sujud menyembah aku”, tetapi Tuhan Yesus menjawab, “Enyahlah Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:9-10).

Jadi kalau hanya mau kaya itu mudah, sembahlah Iblis dan pasti jadi kaya meskipun dengan disertai berbagai perjanjian/ikatan. Tetapi bukan itu tujuan hidup kita! Tuhan pun bisa memberikan kekayaan, tetapi ingatlah: multiplikasi dan promosi itu semuanya datang dari Tuhan! Peganglah hal ini!

Jadi, kalau kita melihat ada orang yang diberkati dalam hal kekayaan, jangan langsung memuji sebab kita harus menyelidiki siapa dulu orang itu;

  • bagaimana kehidupannya, dan
  • bagaimana cara dia mencari uangnya?

Kalau tidak sesuai firman Tuhan, itu bukanlah multiplikasi dan promosi yang dimaksudkan. Kalau Saudara baca Alkitab, maka Saudara akan menemukan bahwa orang-orang yang mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, maka tidurnya saja pun susah.

Pengkhotbah 2:26, “Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.”

Artinya, orang yang mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar itu menimbun dan menimbun terus, tetapi kekayaannya tetap tidak sampai kepada anak-cucunya bahkan akhirnya yang menikmati justru orang lain. Dia hanya termenung, mungkin sambil gigit jari karena dia sudah mati-matian menimbun tetapi tidak bisa menikmati. Kalau Tuhan berjanji tentang multiplikasi dan promosi, bukanlah yang seperti itu! Yang jelas multiplikasi dan promosi dari Tuhan pasti mendatangkan damai sejahtera, sukacita, kebahagiaan dan keluarga yang diberkati Tuhan. Haleluya!