Profetik
Profetik
Pelayanan profetik merupakan wadah pelayanan para pendoa dan imam pujian dan penyembahan. Doa, pujian, dan penyembahan merupakan satu kekuatan yang tidak terpisahkan bagi orang percaya. Pelayanan ini berawal dari visi Gembala Pembina tentang Cawan dan Kecapi dalam Wahyu 5:8,
- Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
Secara khusus, seorang pendoa juga haruslah seorang pemuji penyembah, begitu juga seorang imam pujian penyembahan haruslah seorang pendoa. Apabila ini benar dilakukan, maka akan bangkit pendoa dan imam pemuji penyembah yang tangguh dan terobosan-terobosan akan terjadi, sehingga menjadi berkat untuk keluarga, lingkungan, kota, bangsa, bahkan bangsa-bangsa (Wahyu 5:8).
Renungan profetik
| Devosi | |
|---|---|
| Tanggal | 08 Juni 2026 |
| Penulis | Sub Divisi Profetik |
| Artikel devosi lainnya | |
| |
- Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
Hampir sebagian besar dari kita tentu tidak asing lagi dengan kisah perumpamaan di atas. Seperginya tuan-nya, hamba yang memiliki lima talenta pun pergi dan menjalankan uang tuan-nya dan beroleh laba lima talenta. Begitu pula hamba yang diberi dua talenta, pergi dan menjalankan uang tuan-nya, dan beroleh laba dua talenta.
Akan tetapi, hamba yang diberi satu talenta, pergi menggali lubang dan menyembunyikan uang tuan-nya di dalam tanah (why?). Kita tau kisah selanjutnya bukan? Setelah sekian lama, tuannya pulang dan membuat perhitungan dengan hamba-hambanya tersebut. Kepada yang memiliki lima talenta dan menghasilkan laba lima talenta, tuannya berkata: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Begitu pula kepada hamba yang memiliki dua talenta, tuannya berkata yang sama, memuji hambanya tersebut. Akan tetapi kepada hamba yang memiliki satu talenta, dan yang menyembunyikan talenta tuannya ke dalam tanah dan tidak melipatgandakannya, ia berkata: "Hai hamba yang jahat dan malas ... sudahlah seharusnya uangku itu kau berikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Yang perlu kita renungkan dalam kisah ini adalah: apa yang membuat perbedaan antara hamba yang setia (yang melipatgandakan uang/talenta tuannya), dengan hamba yang jahat? Jawabannya: Perbedaannya adalah dari cara mereka memandang/melihat tuannya. Hamba yang setia melihat tuannya sebagai tuan yang baik. Sedangkan hamba yang jahat memiliki pandangan yang salah akan tuannya. Ia melihat tuannya sebagai tuan yang jahat dan kejam. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Orang yang hidup dari jasa perbuatan baik nya, bukan hidup dari kasih anugerah Tuhan akan memiliki kehidupan seperti hamba yang jahat ini. Ia akan mudah sekali kecewa, marah, iri, ketika sesuatu yang tidak enak terjadi dalam hidupnya. Hidup nya seperti bandul yang bergerak ke kiri dan ke kanan, mengikuti suasana /keadaan. Ketika segalanya tampak baik dan berhasil, ia senang dan gembira, tapi ketika ia gagal dan orang-orang tidak menghargainya, ia muram dan terpuruk.
Mengapa demikian? Sekali lagi, karena ia menaruh pondasi hidup nya atas Pencapaian-nya semata atas usaha dan jasa baik nya sendiri, bukan dibangun di atas iman akan kasih anugerah Tuhan (pengorbanan Kristus). Hamba yang jahat dalam kisah perumpamaan Tuhan Yesus tersebut, tidak bersyukur atas anugerah Allah dalam hidupnya. Ia tidak dapat melihat kebaikan Tuan-nya yang membagi bagikan talenta itu sesuai kemampuannya (ini orang sombong). Alhasil karena ia mempunyai pandangan yang salah, ia mengubur talenta nya dan tidak menghasilkan buah dalam hidupnya.
Please JANGAN SEPERTI ITU! Jadilah hamba yang setia, yang mengenal dan yang hidup dari kasih setia Tuan nya, dan kemudian sebagai bukti imannya, ia mengerjakan talenta/keselamatan yang telah ia terima secara cuma-cuma menjadi 30, 60 bahkan sampai 100 kali lipat.
Tuhan Yesus MemberkatiJadilah hamba yang setia, yang mengenal dan yang hidup dari kasih setia Tuan nya, dan kemudian sebagai bukti imannya, ia mengerjakan talenta / keselamatan yang telah ia terima secara cuma-cuma menjadi 30, 60 bahkan sampai 100 kali lipat.